photo si mbah..waktu bimbing retret di cibadak sukabumi 1990..
D-LARISTA (peDuli stelLa maRIS kiTA). Blog ini adalah media temu rasa, karsa, dan karya para sakerawan ex Seminaris Stella Maris Bogor. Wilujeng sumping, sahabat sakerawan... Tuhan memberkati kita semua, amin.
Pater Wijbrand
CRESCAT ET FLOREAT
Apr 24, 2009
Apr 6, 2009
Mar 13, 2009
Renungan: Berhentilah Mengeluh!
Pantaskan kita mengeluh ? padahal kita telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah kita berkesah ? padahal kita telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan kita membenahi sesuatunya.
Apakah kita bermaksud menyia-nyiakan semua itu, lantas menyingkirkan beban tanggung jawab dari pundak kita ?
Jangan ! jangan biarkan semua kekuatan yang ada pada diri kita terjungkal hanya karena kita berkeluh kesah. Ayo, tegarkan hati. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena tak tahu apa jawaban atas persoalan kita.
Jangan biarkan persoalan menghujamkan keunggulan kita. Ambillah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak kita. Lalu temukan lagi secercah sinar dibalik awan galaksi. Dan , mulailah ambil langkah baru.
Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding kita. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani dari pada disesali. Jika demikian, apakah kita lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup ?
Wisdom of the day
” Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah kekuatan itu sendiri. ” ( Franklin D. Roosevelt )
Sehr erfreut,
William A.
Football Development Dept.
Apakah kita bermaksud menyia-nyiakan semua itu, lantas menyingkirkan beban tanggung jawab dari pundak kita ?
Jangan ! jangan biarkan semua kekuatan yang ada pada diri kita terjungkal hanya karena kita berkeluh kesah. Ayo, tegarkan hati. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena tak tahu apa jawaban atas persoalan kita.
Jangan biarkan persoalan menghujamkan keunggulan kita. Ambillah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak kita. Lalu temukan lagi secercah sinar dibalik awan galaksi. Dan , mulailah ambil langkah baru.
Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding kita. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani dari pada disesali. Jika demikian, apakah kita lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup ?
Wisdom of the day
” Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah kekuatan itu sendiri. ” ( Franklin D. Roosevelt )
Sehr erfreut,
William A.
Football Development Dept.
Renungan: Mengasah Diri
Penebang mengasah kapaknya. Pemburu mengencangkan busurnya. Penulis meraut pensilnya. Mereka harus memperbaharui peralatan-nya. Ini adalah prinsip sederhana tentang produktivitas.
Tak banyak pohon yang bisa ditebang oleh kapak yang tumpul dan aus. Tak ada buruan yang mampu ditaklukkan oleh busur yang renta. Tak sebuah kata bisa tertulis dari pensil yang patah. Maka, apa yang harus kita asah agar tetap meraih kehidupan pribadi dan kerier yang penuh dan berlimpah ?
Kita memiliki sosok tubuh yang pasti renta terkikis usia. Juga kecerdasan yang segera tak banyak berarti tertinggal kemajuan jaman. Serta sekepal hati nurani yang mudah diburamkan oleh debu-debu dunia.
Maka, tiada yang patut kita rawat selain tubuh agar senantiasa menjadi rumah yang nyaman bagi jiwa. Tiada yang perlu kita asah selain pikiran dan ketrampilan agar selalu dapat digunakan untuk membuka pintu kemakmuran. Serta, tiada yang harus kita pertajam selain hati nurani yang memungkinkan kita mendengar nyayian kebahagiaan hidup ini.
Wisdom of the day
”Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun, ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” ( Soekarno )
Sehr erfreut,
William A.
Football Development Dept.
Tak banyak pohon yang bisa ditebang oleh kapak yang tumpul dan aus. Tak ada buruan yang mampu ditaklukkan oleh busur yang renta. Tak sebuah kata bisa tertulis dari pensil yang patah. Maka, apa yang harus kita asah agar tetap meraih kehidupan pribadi dan kerier yang penuh dan berlimpah ?
Kita memiliki sosok tubuh yang pasti renta terkikis usia. Juga kecerdasan yang segera tak banyak berarti tertinggal kemajuan jaman. Serta sekepal hati nurani yang mudah diburamkan oleh debu-debu dunia.
Maka, tiada yang patut kita rawat selain tubuh agar senantiasa menjadi rumah yang nyaman bagi jiwa. Tiada yang perlu kita asah selain pikiran dan ketrampilan agar selalu dapat digunakan untuk membuka pintu kemakmuran. Serta, tiada yang harus kita pertajam selain hati nurani yang memungkinkan kita mendengar nyayian kebahagiaan hidup ini.
Wisdom of the day
”Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun, ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” ( Soekarno )
Sehr erfreut,
William A.
Football Development Dept.
Renungan: SERANGAN DARI DALAM
Gedung tertua di San Francisco, Mission Dolores, memiliki riwayat unik. Bangunan yang didirikan pada 1791 ini mampu bertahan melewati empat gempa bumi besar, termasuk gempa bumi dahsyat 1906 yang meratakan sebagian besar kota tersebut. Ironisnya, gedung itu malah nyaris ambruk karena digerogoti sejenis rayap pada 1990-an.Riwayat Mission Dolores mengingatkan kita pada kisah hidup Simson. Ia hakim Israel yang terkemuka karena kekuatan dan keperkasaannya. Ia pernah membunuh singa dengan tangan kosong dan berkali-kali mengalahkan bangsa Filistin seorang diri. Tragisnya, ia justru terkulai karena bujuk rayu perempuan yang merupakan mata-mata musuhnya. Hawa nafsu membuat pandangannya lamur, tidak sanggup mengenali karakter Delila yang sesungguhnya.
Rengekan Delila pun meruntuhkan pertahanannya, sehingga ia membeberkan rahasia kekuatannya (Hakim-hakim 16: 17). Ia, yang secara gagah berani menghalau musuh-musuh yang menyerang dari luar, jatuh akibat hawa nafsu yang merapuhkan hatinya dari dalam.Kita masing-masing juga rentan terhadap kecenderungan serupa. Kita mungkin gigih mengatasi kebangkrutan bisnis atau kegagalan berprestasi-tantangan hidup yang berasal dari luar. Namun, apakah kita gigih pula mewaspadai hawa nafsu, ketamakan, amarah, atau kelemahan lain yang merongrong kehidupan kita dari dalam? Walaupun tampaknya sepele, apabila tidak dikendalikan, masalah itu dapat merusak kehidupan kita. Karena itu, kita perlu mengenali kelemahan tersebut, mengakuinya di hadapan Tuhan, dan memohon anugerah untuk mengatasinya.
~~ SEDIKIT-SEDIKIT LAMA-LAMA MENJADI BUKIT
JUGA BERLAKU UNTUK MASALAH-MASALAH KECIL YANG TAK SEGERA DIATASI ~~
Sumber: Renungan Harian
Penulis: Arie Saptaji
Rengekan Delila pun meruntuhkan pertahanannya, sehingga ia membeberkan rahasia kekuatannya (Hakim-hakim 16: 17). Ia, yang secara gagah berani menghalau musuh-musuh yang menyerang dari luar, jatuh akibat hawa nafsu yang merapuhkan hatinya dari dalam.Kita masing-masing juga rentan terhadap kecenderungan serupa. Kita mungkin gigih mengatasi kebangkrutan bisnis atau kegagalan berprestasi-tantangan hidup yang berasal dari luar. Namun, apakah kita gigih pula mewaspadai hawa nafsu, ketamakan, amarah, atau kelemahan lain yang merongrong kehidupan kita dari dalam? Walaupun tampaknya sepele, apabila tidak dikendalikan, masalah itu dapat merusak kehidupan kita. Karena itu, kita perlu mengenali kelemahan tersebut, mengakuinya di hadapan Tuhan, dan memohon anugerah untuk mengatasinya.
~~ SEDIKIT-SEDIKIT LAMA-LAMA MENJADI BUKIT
JUGA BERLAKU UNTUK MASALAH-MASALAH KECIL YANG TAK SEGERA DIATASI ~~
Sumber: Renungan Harian
Penulis: Arie Saptaji
Dialog: Rm Parno & Arnoko
Rm Parno CM Bertanya:
Halo Arnoko dan teman-teman, pakabar? Bagaimana perkembangan beasiswa seminari, adakah cerita pemanfaatannya? Kemaren tuh aku gak nyimak sepenuhnya, apakah dana beasiswa jadi dipakai untuk memenuhi pembelian kompor? Salut bahwa teman-teman bergerak cukup cepat. Bukan berapanya, tapi sambungan batinnya dengan seminari. Aku masih ingat persis ketika seorang mantan seminaris bogor, yang lulus dengan wajar, setelah satu tahunan dia kecewa banget, maki maki seminari. Aku sampai gak habis pikir. Tetapi karena aku sekedar mau bersahabat dengannya ya saya dengarkan saja.
Aku sering pingin dengan kabar dari romo seminari tuh karena pingin tahu trend pemikiran mereka untuk para seminaris, pingin denger cerita suka dukanya para seminaris. Aku ini CM, tapi memang gak punya sambungan sejarah pribadi dengan seminari Garum. Kadang kepikir untuk terus berbakti pada seminari tempat aku dibesarkan. Terakhir aku ke Bogor adalah waktu tahbisan, sepuluh tahun lalu. Aku memang diperkenankan untuk ikut misa harian di kapel, tapi gak ada kesempatan berkenalan dengan seminari di ruang makan atau di manapun. Memang seminari stella maris menjadi terasa anonim, tapi aku tetep mencintai. Aku tak bisa menghapus kenyataan bahwa di sana aku dibentuk. Pendidikan lucu yang besar pengaruhnya dalam hidupku adalah cara audiovisualnya Mbah Wijbrands untuk menanam sensus ecclesiae.
Martin gimana lembaga penelitian atmajaya, lagi sibuk dengan pemilu?
Suryo, kapan jadi putar film di seminari?
Dengan pertanyaan-pertanyaan itu saya jadi ingat betapa kayanya narasumber bagi seminari Bogor untuk mendaratkan ajarannya ya.
Arnoko, tolong dicek, kalau ada kiriman satu juta untuk beasiswa seminaris atas nama ibu Bernadette Juanita Palma dua hari lalu itu dari aku. Tolong tambahkan untuk beasiswa anak-anak.
Selamat berkarya semua.
parno
Arnoko Menjawab
Matur nuwun sanget Romo atas partisipasinya dan seluruh doa yg Romo panjatkan utk usaha2 kami.Dana yg terkumpul kemarin sekitar 11 jutaan dan yg terpakai utk kompor 8 juta, jadi saat ini masih tersisa 3 jutaan. Sisa ini akan kami salurkan utk dana beasiswa seminaris, seperti rencana awal kita dulu.Terimakasih jg atas masukan dananya lg.
Saat ini baru sy sadar, ternyata mengelola seminari tdk mudah, apalagi dg biaya yg minim dan hasil (output) yg, menurut banyak orang luar, tidak jelas. Suatu lembaga Gereja, pendidikan calon imam, yg hanya menghasilkan sangat sedikit imam, namun memerlukan biaya yg sangat besar ! Sy tdk tau, kenapa kemudian muncul opini demikian.
Bagi saya pribadi, panggilan adalah unik. Walaupun sebagian besar seminaris tdk sampai jenjang tahbisan, tp dpt sy katakan, hampir seluruh tmn2 eks tersebut, memiliki moral Gereja dan kesetiaan yg sangat besar dan dalam thp Gereja Katoliki. Menurut sy, inilah hakekat tempat persemaian ! Penumbuh generasi baru Gereja, sehingga tongkat estafet tetap berjalan. Kondisi ini mungkin hanya dpt dirasakan oleh kita yg pernah hidup didalamnya kali, sementara dunia luar tahunya jadi.
Mengenai seminaris yg nakal2, sy pikir, itu adalah bagian dr perkembangan menuju kekedewasaan iman. Pd saatnya kondisi tsb akan berbalik arah. Kita semua pun pernah merasakan menjadi nakal bukan ?Saat ini, total ada 83 seminaris aktif.Secara fisik, keadaan gedung semakin menarik dan pepak. Berkat kegigihan komitmen Romo Rektor dlm mengelola seminari.
Halo Arnoko dan teman-teman, pakabar? Bagaimana perkembangan beasiswa seminari, adakah cerita pemanfaatannya? Kemaren tuh aku gak nyimak sepenuhnya, apakah dana beasiswa jadi dipakai untuk memenuhi pembelian kompor? Salut bahwa teman-teman bergerak cukup cepat. Bukan berapanya, tapi sambungan batinnya dengan seminari. Aku masih ingat persis ketika seorang mantan seminaris bogor, yang lulus dengan wajar, setelah satu tahunan dia kecewa banget, maki maki seminari. Aku sampai gak habis pikir. Tetapi karena aku sekedar mau bersahabat dengannya ya saya dengarkan saja.
Aku sering pingin dengan kabar dari romo seminari tuh karena pingin tahu trend pemikiran mereka untuk para seminaris, pingin denger cerita suka dukanya para seminaris. Aku ini CM, tapi memang gak punya sambungan sejarah pribadi dengan seminari Garum. Kadang kepikir untuk terus berbakti pada seminari tempat aku dibesarkan. Terakhir aku ke Bogor adalah waktu tahbisan, sepuluh tahun lalu. Aku memang diperkenankan untuk ikut misa harian di kapel, tapi gak ada kesempatan berkenalan dengan seminari di ruang makan atau di manapun. Memang seminari stella maris menjadi terasa anonim, tapi aku tetep mencintai. Aku tak bisa menghapus kenyataan bahwa di sana aku dibentuk. Pendidikan lucu yang besar pengaruhnya dalam hidupku adalah cara audiovisualnya Mbah Wijbrands untuk menanam sensus ecclesiae.
Martin gimana lembaga penelitian atmajaya, lagi sibuk dengan pemilu?
Suryo, kapan jadi putar film di seminari?
Dengan pertanyaan-pertanyaan itu saya jadi ingat betapa kayanya narasumber bagi seminari Bogor untuk mendaratkan ajarannya ya.
Arnoko, tolong dicek, kalau ada kiriman satu juta untuk beasiswa seminaris atas nama ibu Bernadette Juanita Palma dua hari lalu itu dari aku. Tolong tambahkan untuk beasiswa anak-anak.
Selamat berkarya semua.
parno
Arnoko Menjawab
Matur nuwun sanget Romo atas partisipasinya dan seluruh doa yg Romo panjatkan utk usaha2 kami.Dana yg terkumpul kemarin sekitar 11 jutaan dan yg terpakai utk kompor 8 juta, jadi saat ini masih tersisa 3 jutaan. Sisa ini akan kami salurkan utk dana beasiswa seminaris, seperti rencana awal kita dulu.Terimakasih jg atas masukan dananya lg.
Saat ini baru sy sadar, ternyata mengelola seminari tdk mudah, apalagi dg biaya yg minim dan hasil (output) yg, menurut banyak orang luar, tidak jelas. Suatu lembaga Gereja, pendidikan calon imam, yg hanya menghasilkan sangat sedikit imam, namun memerlukan biaya yg sangat besar ! Sy tdk tau, kenapa kemudian muncul opini demikian.
Bagi saya pribadi, panggilan adalah unik. Walaupun sebagian besar seminaris tdk sampai jenjang tahbisan, tp dpt sy katakan, hampir seluruh tmn2 eks tersebut, memiliki moral Gereja dan kesetiaan yg sangat besar dan dalam thp Gereja Katoliki. Menurut sy, inilah hakekat tempat persemaian ! Penumbuh generasi baru Gereja, sehingga tongkat estafet tetap berjalan. Kondisi ini mungkin hanya dpt dirasakan oleh kita yg pernah hidup didalamnya kali, sementara dunia luar tahunya jadi.
Mengenai seminaris yg nakal2, sy pikir, itu adalah bagian dr perkembangan menuju kekedewasaan iman. Pd saatnya kondisi tsb akan berbalik arah. Kita semua pun pernah merasakan menjadi nakal bukan ?Saat ini, total ada 83 seminaris aktif.Secara fisik, keadaan gedung semakin menarik dan pepak. Berkat kegigihan komitmen Romo Rektor dlm mengelola seminari.
Mar 5, 2009
Kisah Pengembaraan Om Roland Selepas Membiara
Buat teman-2 semuanya, kalau memang ada yang mau simak pengalamanku ini silahkan saja, soalnya bisa jadi pelajaran di kemudian hari. Kita jangan minder or pesimis, apalagi apatis.
Ketika saya keluar dari Seminari Tinggi St. Paulus Bandung, tgl 3 Agustus 1981, Kira-2 Jam 14.00an, saya dijemput taxi ke Buah Batu 178H (Sekarang Jl. Suryalaya No.7), langsung saya masukan semua barang-2 saya ke dalam taxi, terus saya meluncur ke Jakarta. Tujuannya ke rumah saudara, saya tidak berani pulang ke rumah.Karena saya keluar dari Seminari. Pasti dicibir. Ke tempat saudara saya saya mangkal selama sebulan, bengong-2 enggak ada kerja.Singkat cerita saya dipekerjakan diperusahaan kontraktor saudara saya.
Saya bertahan cuma 6 bulan.
Setelah saya keluar dari kontraktor, langsung saya kontak dengan Bruder Winand OFM, beliau memberi saya memo, untuk kerja di perusahaan radio telepon (Jualan SSB untuk kapal layar dan Jual Handy Talky untuk Jasa Marga) Si Oom Nathan (Pemilik), bingung: "Bekas romo mau dikasih pekerjaan apa ya? engga ada yang cocok!" katanya. Dia maksa saya jualan SSB (semacam alat komunikasi jarak jauh). Seumur hidup saya belum pernah lihat barang itu lalu saya harus jual, kalau engga jual, engga makan. Saya tinggal di kantor, tidur di meja yang sudah disusun. Maklum belum bisa indekost, karena gak punya duit. Gaji cuma habis pake makan, dan ongkos keliling. Motor dipinjami, pake Honda Z-80?. Baju, tas, dasi, tempat tidur, lemari plastik, kartu nama, dikasih dari boss (Oom Nathan), mulai dari situ dia yang memoles saya jadi salesman.
Setelah setahun engga ada omset yang bagus, saya pindah ke LSM (Bina Swadaya-Trubus) . Saya jadi pelatih dan pembina koperasi para peternak ayam di kawasan Cimanggis, (Bayangkan dari salesman pindah ke pekerjaan sosial!)
Dari situ mulai Tidak Betah, pindah divisi ke Trubus, jadi salesman Iklan (Account Executive) sebenarnya di sini tambang emas. Kalau ditekuni.
Terus pindah lagi ke Gramedia Pustaka Utama, jadi salesman buku bahasa Inggris, disini engga betah juga, terus pindah divisi baru UPBS (Unit Paket Buku Sekolah) sekarang Grasindo (saya salah satu perintisnya), masih engga betah juga, saya pindah seksi dari salesman ke bidang LAY OUT (urusan pracetak) Aneh 'kan... tapi saya bisa kerjakan semuanya itu. Bayangkan dalam setahun saya terima 6 SK (Surat Keputusan /Pengangkatan, karena sering pindah-pindah seksi).
Akhirnya saya ditawari pindah ke luar Gramedia grup, ketika itu saya di Australia bawa rombongan (IKAPI-ikatan penerbit) ketemu pemilik penerbit buku asing Periplus, Disini saya jadi banyak jabatan yang dirangkap ada 4 jabatan (Personalia, kartografi (pembuatan peta), Penerbitan buku, Produksi) Di sini saya ketemu Yohanes Mogo dan Heru. Fasilitas bagus, gaji bagus. Tapi stressnya minta ampun, suruh pecat orang sampe 20-an. Kayak apa stressnya, sampe kepengadilan segala. Lalu kalah di pengadilan. setelah itu saya keluar. (1 Mei 2001). Mau bikin penerbit (karena terhasut teman di Ikapi, lalu gagal jadi penerbit, setelah pesangon hampir habis, cepat-2 cari batu loncatan.
Karena saya ikut berorganisasi di Pemuda Katolik (jabatan terakhir sebagai SekJend DKI), saya ketemu mantan Anggota DPR di gereja, beliau membawa saya ke perusahaan peternakan ayam (Sierad Produce Group). Saya membantu beliau sebagai asisten. Selama di Sierad, di rumah bikin roti sendiri, terus dijual dari warung ke warung.Suatu ketika saya dipindah lagi sebagai asisten Boss atau pemilik atau orang nomor satu (Ini jabatan paling enak karena semua Direktur kalau mau ketemu boss, harus lewat saya, jadwal boss saya yang atur, sampe boss makan obat pun saya yang ingatkan.). Tapi sayang sekali jabatan tersebut hilang karena saya engga tahan stress, harus kerja 24 jam,berat badan turun 6 kilo, tidak ada libur, kalau boss panggil harus siap. Saya nekad, boss saya bantah. Akibatnya saya kalah. Keluar.!
nah dari sini saya engga dapat pesangon, karena cuma 3 tahun kurang 2 bulan, jelas engga ada pesangon. Tidak sesuai peraturan Pemerintah.!
Saya ke Amerika (Dapat Visa nya gampang, padahal lagi ketat-2nya, berkat Tuhan), nekad kerja dan numpang hidup dengan adik di sana. S Sebelunya "ngegembel" di Atlanta sebulan, terus pindah ke LA (rumah adik)... Di Amrik LA, barang-barang berharga saya sempat di jarah. (isinya passport, tiket kembali, uang, kamera) beruntung saya dapat menangkap malingnya kembali. Aneh ya.... Saya kejar pake kaki, seperti di film. Akhirnya berhasil ketangkep, maling saya lepas, setelah barang-2 dikembalikan. Tapi saya engga betah lagi karena pisah dengan keluarga di Indonesia. terus pulang, dan nekad hidup di Bekasi. Pulang dari Amrik beli gerobak, buka bubur ayam dorong, jualan di pinggir jalan, namanya bubur ayam Lintara (cita-cita Lintas Nusantara), gerobak bubur dijual karena isteri kembali ngajar jadi guru tetap di SD Kristen. Saya buka konfeksi jahit, jasa lay out dan cetak Sampe sekarang. Selain itu juga, sekarang saya ngasih kuliah fotografi di Politeknik UI Depok, dan IPB (kelas khusus anak-anak yang slowner alias rada jauh IQnya.) Motivasi saya ngajar agar tidak cepat pikun dan tetap memberi ilmu kepada orang lain. Semua itu cuma satu, agar lebih fokus dalam kerja, dan tekun, serta jangan lupa berdoa. Cuma kekuatan doa itulah yang sekarang ini bikin saya jadi lebih tegar.
Semoga pengalaman saya ini dapat diambil hikmahnya agar teman-2 jangan pesimis, lebih fokus, harus ulet, tekun, jangan menyerah, kerja keras. God Bless U all. salam, roland ( Bogor 1971-1977-Bandung 1977-1981)
Ketika saya keluar dari Seminari Tinggi St. Paulus Bandung, tgl 3 Agustus 1981, Kira-2 Jam 14.00an, saya dijemput taxi ke Buah Batu 178H (Sekarang Jl. Suryalaya No.7), langsung saya masukan semua barang-2 saya ke dalam taxi, terus saya meluncur ke Jakarta. Tujuannya ke rumah saudara, saya tidak berani pulang ke rumah.Karena saya keluar dari Seminari. Pasti dicibir. Ke tempat saudara saya saya mangkal selama sebulan, bengong-2 enggak ada kerja.Singkat cerita saya dipekerjakan diperusahaan kontraktor saudara saya.
Saya bertahan cuma 6 bulan.
Setelah saya keluar dari kontraktor, langsung saya kontak dengan Bruder Winand OFM, beliau memberi saya memo, untuk kerja di perusahaan radio telepon (Jualan SSB untuk kapal layar dan Jual Handy Talky untuk Jasa Marga) Si Oom Nathan (Pemilik), bingung: "Bekas romo mau dikasih pekerjaan apa ya? engga ada yang cocok!" katanya. Dia maksa saya jualan SSB (semacam alat komunikasi jarak jauh). Seumur hidup saya belum pernah lihat barang itu lalu saya harus jual, kalau engga jual, engga makan. Saya tinggal di kantor, tidur di meja yang sudah disusun. Maklum belum bisa indekost, karena gak punya duit. Gaji cuma habis pake makan, dan ongkos keliling. Motor dipinjami, pake Honda Z-80?. Baju, tas, dasi, tempat tidur, lemari plastik, kartu nama, dikasih dari boss (Oom Nathan), mulai dari situ dia yang memoles saya jadi salesman.
Setelah setahun engga ada omset yang bagus, saya pindah ke LSM (Bina Swadaya-Trubus) . Saya jadi pelatih dan pembina koperasi para peternak ayam di kawasan Cimanggis, (Bayangkan dari salesman pindah ke pekerjaan sosial!)
Dari situ mulai Tidak Betah, pindah divisi ke Trubus, jadi salesman Iklan (Account Executive) sebenarnya di sini tambang emas. Kalau ditekuni.
Terus pindah lagi ke Gramedia Pustaka Utama, jadi salesman buku bahasa Inggris, disini engga betah juga, terus pindah divisi baru UPBS (Unit Paket Buku Sekolah) sekarang Grasindo (saya salah satu perintisnya), masih engga betah juga, saya pindah seksi dari salesman ke bidang LAY OUT (urusan pracetak) Aneh 'kan... tapi saya bisa kerjakan semuanya itu. Bayangkan dalam setahun saya terima 6 SK (Surat Keputusan /Pengangkatan, karena sering pindah-pindah seksi).
Akhirnya saya ditawari pindah ke luar Gramedia grup, ketika itu saya di Australia bawa rombongan (IKAPI-ikatan penerbit) ketemu pemilik penerbit buku asing Periplus, Disini saya jadi banyak jabatan yang dirangkap ada 4 jabatan (Personalia, kartografi (pembuatan peta), Penerbitan buku, Produksi) Di sini saya ketemu Yohanes Mogo dan Heru. Fasilitas bagus, gaji bagus. Tapi stressnya minta ampun, suruh pecat orang sampe 20-an. Kayak apa stressnya, sampe kepengadilan segala. Lalu kalah di pengadilan. setelah itu saya keluar. (1 Mei 2001). Mau bikin penerbit (karena terhasut teman di Ikapi, lalu gagal jadi penerbit, setelah pesangon hampir habis, cepat-2 cari batu loncatan.
Karena saya ikut berorganisasi di Pemuda Katolik (jabatan terakhir sebagai SekJend DKI), saya ketemu mantan Anggota DPR di gereja, beliau membawa saya ke perusahaan peternakan ayam (Sierad Produce Group). Saya membantu beliau sebagai asisten. Selama di Sierad, di rumah bikin roti sendiri, terus dijual dari warung ke warung.Suatu ketika saya dipindah lagi sebagai asisten Boss atau pemilik atau orang nomor satu (Ini jabatan paling enak karena semua Direktur kalau mau ketemu boss, harus lewat saya, jadwal boss saya yang atur, sampe boss makan obat pun saya yang ingatkan.). Tapi sayang sekali jabatan tersebut hilang karena saya engga tahan stress, harus kerja 24 jam,berat badan turun 6 kilo, tidak ada libur, kalau boss panggil harus siap. Saya nekad, boss saya bantah. Akibatnya saya kalah. Keluar.!
nah dari sini saya engga dapat pesangon, karena cuma 3 tahun kurang 2 bulan, jelas engga ada pesangon. Tidak sesuai peraturan Pemerintah.!
Saya ke Amerika (Dapat Visa nya gampang, padahal lagi ketat-2nya, berkat Tuhan), nekad kerja dan numpang hidup dengan adik di sana. S Sebelunya "ngegembel" di Atlanta sebulan, terus pindah ke LA (rumah adik)... Di Amrik LA, barang-barang berharga saya sempat di jarah. (isinya passport, tiket kembali, uang, kamera) beruntung saya dapat menangkap malingnya kembali. Aneh ya.... Saya kejar pake kaki, seperti di film. Akhirnya berhasil ketangkep, maling saya lepas, setelah barang-2 dikembalikan. Tapi saya engga betah lagi karena pisah dengan keluarga di Indonesia. terus pulang, dan nekad hidup di Bekasi. Pulang dari Amrik beli gerobak, buka bubur ayam dorong, jualan di pinggir jalan, namanya bubur ayam Lintara (cita-cita Lintas Nusantara), gerobak bubur dijual karena isteri kembali ngajar jadi guru tetap di SD Kristen. Saya buka konfeksi jahit, jasa lay out dan cetak Sampe sekarang. Selain itu juga, sekarang saya ngasih kuliah fotografi di Politeknik UI Depok, dan IPB (kelas khusus anak-anak yang slowner alias rada jauh IQnya.) Motivasi saya ngajar agar tidak cepat pikun dan tetap memberi ilmu kepada orang lain. Semua itu cuma satu, agar lebih fokus dalam kerja, dan tekun, serta jangan lupa berdoa. Cuma kekuatan doa itulah yang sekarang ini bikin saya jadi lebih tegar.
Semoga pengalaman saya ini dapat diambil hikmahnya agar teman-2 jangan pesimis, lebih fokus, harus ulet, tekun, jangan menyerah, kerja keras. God Bless U all. salam, roland ( Bogor 1971-1977-Bandung 1977-1981)
Subscribe to:
Posts (Atom)


