Pater Wijbrand

Pater Wijbrand
CRESCAT ET FLOREAT

Nov 28, 2010

KESAN PESAN REUNI 2010

hari ini minggu,,,tapi kenangan indah memory temu kangen sungguh tidak bias begitu saja saat ingatan terlintas masa2 20 tahun yg lalu sekelebat muncul,,,seakan akan tombol on terputar,,sungguh indah...saat kemarin kami duduk sore di eks tampomas mas Anton Beller, Rm Alparis, Rm Yosef Watun, mas Hans Funan dan saya, sungguh merupakan saat sedang minta ijin untuk foto copy sama Pater Rector...lalu seperti biasa kembali keseminari masuk matahari ngedinginin badan,,,Rm Alparis seperti biasa ngajak nyari bakwan dan combro hehehe ngajak ceting bareng,,,,

sungguh acara Reuni yg sangat berkesan, makan malam banyak teman2 yg kami temui menyapa, tertawa, senda gurau, bahkan kami tidak bisa lagi membedakan mana awam, para romo, propinsial, rector sugguh tidak ada batasan,,,yg ada hanya persaudaraan dan persaudaraan,,,saya sendiri walaupun sudah punya anak dua tapi merasa saya sdh menjadi romo di paroki entah berantah hehehehe.....

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih sedalam dalamnya untuk Rm Yulius OSC ( thanks juga atas korek apinya bro ), Rm Deddie, Paman Arnoko, Abang Campur, Kakak Hermawan Gouw, Mas Bobby Patiradja ( buku mu sangat bagus bro thanks ), dan para panitia lainnya....
Anda semua sungguh luar biasa,,,, melalui tangan dan ide kalian semua acara semalam sungguh menjadi acara yg terberkati dan berkesan di hati kami....

semoga kedepannya persaudaraan kita menjadi lebih kental dan akrab sesama alumni dan dapat melakukan yg terbaik buat seminari kita

sekali lagi terimakasih bro,,,,salam hangat dari saya
Stefanus Ope Tolok

DANA REUNI 2010

Dear All,

Sebenarnya Panitia tidak mau berbicara masalah biaya namun karena ada rekan yang bertanya maka dengan sangat senang berikut ini kami uraikan perincian biaya siapa tahu ada para alumnus yang mau membantu penjualan Buku Pater Wijbrand
Modal acara ini kurang lebih sebagai berikut :
•Cetak buku Pater Wijbrands Rp.17.000.000,-- (untuk 500 eksemplar)
•Kunsumsi yg dikeluarkan Rektor Rp. 30.000.000,--
•Bis Rp. 1.200.000,--
•Modal lukisan Rm Yulius Rp. 3.000.000,--
•Modal Likisan Hedi Gustino Rp. 2.000.000,--
•Sumbangan Karpet Rp. 5.300.000,-- (sumbangan)
•Soft Drink (kaleng) Rp. 3.000.000,-- (sumbangan)
• Total Rp. 61.200.000,--
Belum termasuk sewa sound system ..

Nah bagi rekan rekan yang mau membantu, tolong beli buku Pater Wijbrand karena menurut catatan yang saya terima dari Rekter yang terjual hanya 79 buku x Rp. 75.000 = Rp.5.925.000,--

Atau jika ada yang berminat mau beli buku silahkan hubungi kami dan uang transfer ke rekening Seminari a/n : Yohanes Driyanto atau Nikasius Jatmiko , Rek No.8410101000, BCA

Wassalam
LS

Aug 25, 2010

Bau Tanah Selepas Hujan

.......:
"Tuhan juga bukan soal teologi seperti apa dan filsafat aliran mana,
sehingga konstruksi di luar skenario pikir kita itu sesat dan bidah.
Tuhan itu adalah soal apa yang kita yakini ketika kita bertindak.
Tindakan yang kita lakukan dengan kesungguhan hati, telah menjadi doa
dan madah. Maka, hidup ini adalah sebuah kitab suci tertua dan
terbuka yang ditulis oleh Tuhan sendiri, alam ini adalah ruang ibadah
kita tanpa dinding dan tanpa atap, sesama kita adalah wujud
wajah-wajah Tuhan
yang menyamar yang perlu kita layani dengan setulus hati dan tindakan
kita adalah ritual suci di hadapan altar agung Yang Illahi."....

Terusannya di bawah ini:

Bau Tanah Selepas Hujan

Apa yang kita lakukan dalam hidup ini sebenarnya tidak begitu penting,
yang lebih penting adalah kita telah melakukannya. Manusia
mendefinisikan dirinya dengan perilakunya. Apa yang telah kita
lakukan, sebenarnya sudah kita lakukan dan kita tidak bisa mengubah
apa yang sudah terjadi. Kita hanya bisa mengubah apa yang belum
terjadi.

Dalam banyak tradisi kerohanian, tindakan adalah laku tertinggi dalam
praktek kesucian. Doa melalui tindakan (contemplatio in actione)
menempati level tertinggi dari hirarki doa itu sendiri.
Manusia-manusia suci tak tergantung lagi dengan ritual untuk
memanjatkan doa, tak tergantung lagi dengan tempat ibadah untuk
hening. Melalui tindakan, mereka berdoa dalam perilaku yang sederhana
setiap hari. Manusia seperti ini tak terganggu oleh kebisingan
sekitar,

atau terganggu oleh kesibukan yang menumpuk. Setiap tarikan nafas,
kedipan mata, gerakan tubuh, ucapan kata, adalah gerakan-gerakan doa
yang dia lakukan. Tindakan adalah rumah ibadahnya.

Suatu hari, ada iring-iringan Raja dengan segenap pengawalnya. Kereta
berkuda berderap ramai memasuki suatu desa, hingga menggugah hampir
seluruh warga berdiri di pinggir jalan, ingin melihat bagaimana raja
dan rombongannya lewat. Di sela-sela keramaian, ada seorang pemuda
yang berjalan menyusuri jalan tersebut, hingga ia melihat ada seorang
pandai besi yang tetap bekerja menempa besi-besi yang sudah
dipanggangnya di api. Si pandai
besi itu kelihatannya tidak terusik dengan kedatangan sang Raja, ia
tetap bekerja seperti sedia kala. Maka pemuda itu mendekatinya dan
bertanya, "Apakah kamu tahu, siapa yang baru saja lewat di pinggir
jalan?" Lalu si pandai besi itu menjawab, "Aku tidak tahu." Maka,
sejak saat itu, si pemuda memutuskan untuk berguru kepada si Pandai
Besi dan menjadi muridnya.

Banyak orang beragama saat ini menjadi cengeng. Sedikit ada suara
berisik di luar tempat ibadah, mereka marah-marah dan merasa terusik.
Ada seorang pemuka agama yang marah-marah di atas mimbar, karena di
belakang ada suara
anak-anak yang sedang bermain dan ada yang menangis. Pemuka agama ini
mengatakan, suara-suara itu mengganggu kekusukan dan kekidmatan
berdoa. Suatu kali, Yesus sedang mengajar orang-orang yang berkerumun
mengikuti-Nya,
hingga tiba-tiba Ia mendengar suara gaduh anak-anak di luar yang
hendak masuk ke ruangan tetapi diusir oleh para murid-Nya. Maka Yesus
berkata, "Kenapa kalian usir anak-anak itu, biarkanlah mereka masuk,
sebab anak-anak inilah yang empunya Kerajaan Surga. Kalau kalian tak
mau menjadi seperti anak kecil ini, kalian akan kehilangan surga."
Jika Tuhan hanya kita temukan
di tempat yang tenang dan damai, ber-AC dan bersih, dan tidak bisa
kita temukan di tempat yang berisik dan kumuh, maka kita telah
menemukan Tuhan yang salah.

Si Pandai Besi, adalah teladan kita, bahwa dalam pekerjaannya dia
sedang melakukan hubungan yang intim dengan Tuhan, sampai-sampai,
suara-suara di luar sana menjadi tiada. Keintiman dan keheningan kita
bersama Tuhan, mengalahkan keramaian dan kegaduhan yang ditimbulkan
oleh dunia ini.
Suara-suara di luar sana, tak ubahnya suara televisi atau radio, bisa
kita atur volumenya, besar atau kecil, atau kita matikan sama-sekali.
Si Pandai Besi adalah teladan kita, bahwa ibadah dan perilaku, adalah
satu.

Sesungguhnya, kita tak pernah benar-benar percaya, bahwa Tuhan itu
ada. Para filsuf menyebutnya, ateisme praktis, ketidakpercayaan pada
Tuhan dalam tindakan, meskipun selalu memuji dan mengakui-Nya. Vijay
Eswaran, seorang
pejiarah batin, menulis begini, "Jika Anda menerima Tuhan, Anda harus
memahami bahwa Dia ada dalam semua yang kita lakukan. Dalam semua
relasi. Dalam semua tantangan. Dalam semua rintangan. Kerja sebagai
ibadah jika dilakukan bersama-Nya di pikiran kita. Jika tanpa
menyertakan Dia, pekerjaan
itu akan menjadi pengakuan dosa." Tuhan itu bukan soal dimana Dia
berada sehingga kita membangun sebuah rumah untuk berdoa atau sebuah
tempat yang kita sebut tanah suci. Bukan soal kapan waktu yang tepat
untuk bertemu dengan-Nya, sehingga kita menetapkan hari dan waktu
tertentu untuk berdoa.
Seorang sufi menulis, "Mereka yang jauh dari Ka'abah berdoa dengan
menghadap Ka'abah. Tetapi mereka yang berada di dalam Ka'abah, berdoa
menghadap kemanapun yang mereka inginkan." Semua tempat suci dan semua
waktu bernilai
di mata Tuhan. Jika tidak, kenapa Dia menciptakan- Nya. Tuhan juga
bukan soal teologi seperti apa dan filsafat aliran mana, sehingga
konstruksi di luar skenario pikir itu sesat dan bidah. Tuhan itu
adalah soal apa yang kita yakini ketika kita bertindak. Tindakan yang
kita lakukan dengan kesungguhan hati, telah menjadi doa. Maka, hidup
ini adalah sebuah kitab suci tertua dan terbuka yang ditulis oleh
Tuhan sendiri, alam ini adalah ruang ibadah kita
tanpa dinding dan tanpa atap, sesama kita adalah wujud wajah-wajah
Tuhan yang menyamar yang perlu kita layani dengan setulus hati dan
tindakan kita adalah ritual suci di hadapan altar agung Yang Illahi.
Suatu kali, seorang sahabat mengirim sebuah puisi yang ditulis W.S.
Rendra (Almarhum) kepada saya. Puisi ini, katanya ditulis ketika
beliau sedang terbaring sakit di ranjangnya sebelum meninggal. Saya
mengutipnya di sini untuk bekal perjalanan kita ke dunia hati.

Seringkali aku berkata, ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya:

Mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,

Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,

Kusebut itu sebagai ujian,

Kusebut itu sebagai petaka,

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,

Ingin lebih banyak mobil,

Lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,

Seolah semua "derita" adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya

Harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

Dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku"

Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,

Padahal tiap hari kuucapkan,

Hidup dan matiku hanya untuk beribadah.

"Ketika langit dan bumi bersatu,

Bencana dan keberuntungan sama saja".....

Semua manusia akan mati, tetapi hanya orang-orang tertentu yang tetap
kita kenang. Apa yang kita kenang dari mereka? Kita mengenang apa yang
telah mereka lakukan untuk peradaban dan kemanusiaan, untuk kehidupan
yang lebih
baik di dunia ini. Kita tidak sekedar mengenang apa yang mereka
katakan, tetapi mengenang tindakan yang terekam dalam kata-kata
mereka. Kita memang
mempercayai orang dengan kata-katanya, tetapi kita menghargai mereka
dengan perilakunya. Maka jika Anda ingin meninggalkan jejak kenangan
dalam hidup ini, hiduplah seperti hujan yang turun ke bumi, setelah
selesai, dia akan meninggalkan bau harum dari tanah yang dibasahinya.
Tinggalkan perbuatan yang baik, perilaku yang bermartabat, dan
tindakan yang membawa kemuliaan.

Jangan menunggu, waktu tidak akan pernah "benar-benar tepat".

Mulailah dari tempat Anda berdiri sekarang,

dan bekerjalah dengan menggunakan alat apapun yang Anda miliki,

dan alat-alat yang lebih baik akan ditemukan

saat Anda melakukan pekerjaan Anda

(Napoleon Hill)

--
"Only two things are infinite: The universe and human stupidity. And I
am not so sure about the former." Einstein.
(Please delete it from your files if you are not interested. Thank you
for your kind compliance).

Aug 18, 2010

*Berpikir Yang Baik Tentang Sesama*

Suatu hari seorang bapak kehilangan uang sebesar lima ratus ribu
rupiah. Ia sudah mencari ke mana-mana, namun tidak ia temukan. Ia sudah
berusaha mengingat-ingat apakah uangnya itu tertinggal di kantor atau jatuh
di jalan. Namun ia tidak ingat apa-apa. Yang pasti adalah ia memasukkan
uangnya itu ke saku celananya, bukan di dompetnya. Karena itu, ia menaruh
curiga terhadap pembantu rumah tangga yang pagi harinya mencuci celananya.

Namun ia tidak mau cepat-cepat menuduh. Sepulang dari kantor, ia
bertanya kepada istrinya tentang uang lima ratus ribu rupiah yang hilang
itu. Sang istri juga tidak tahu. Ia hanya memindahkan celana suaminya yang
kotor itu lalu meletakkan di kamar mandi. Setelah itu, pembantu yang mencuci
celana dan pakaian-pakaian yang lain. Bapak itu semakin bingung mendengar
penjelasan istrinya. Ia semakin kuatir, karena uang itu bukan miliknya. Uang
itu milik bersama teman-teman di kantornya.

Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya kepada sang pembantu.
Sambil tersenyum, pembantu itu berkata, “Pak, saya simpan uang bapak. Bapak
tidak usah cemas. Uang bapak selamat.”

Bapak itu memandang penuh senyum dan terima kasih kepada pembantu
itu. Ia memeluknya. Ia meminta maaf kepadanya, karena sudah berprasangka
buruk terhadapnya.

Sering orang mudah berprasangka buruk terhadap sesamanya.
Kesalahan yang dibuatnya sendiri dituduhkan kepada orang lain. Kecerobohan
diri sendiri dilimpahkan kepada orang lain. Orang mau melempar kesalahan
dirinya kepada orang lain.

Kisah tadi mengajak kita untuk hati-hati dalam menuduh orang lain.
Belum tentu orang yang kita tuduh itu seburuk yang ada dalam pikiran kita.
Ternyata orang yang dituduh melakukan hal yang buruk itu orang yang baik.
Orang yang peduli terhadap sesamanya. Orang yang mau menyelamatkan
sesamanya.

Ketika Anda berhadapan dengan suatu persoalan, Anda mesti
tanggalkan prasangka-prasangka. Prasangka itu seperti sepatu yang enak
dipakai, tetapi tidak bisa dipakai untuk berjalan. Mengapa ada
prasangka-prasangka? Karena orang tidak menguasai persoalan yang ada. Orang
masih meraba-raba tentang suatu persoalan. Orang mesti berusaha menguasai
sungguh-sungguh suatu persoalan.

Orang akan memiliki pandangan yang lebih jernih dan enak, kalau ia
mampu melepaskan diri dari prasangka-prasangka. Persoalan hidup pun akan
mudah diatasi. Untuk itu, orang mesti membersihkan dirinya dari pikiran yang
buruk tentang orang lain. Orang mesti memiliki suatu pikiran positif tentang
orang lain.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menemukan hal-hal yang
baik dalam diri sesama kita. Dengan cara ini, kita akan melihat sesama
dengan mata yang jernih dan baik. Kita akan membangun suatu relasi yang
lebih baik dengan sesama kita. Hidup kita akan bahagia dan damai. Tuhan
memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Jun 17, 2010

Ketika......

Ketika kerjamu tidak di hargai, maka saat itu engkau sedang belajar
> tentang
> KETULUSAN.
>
> Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu engkau sedang belajar
> KEIKHLASAN.
>
> Ketika hatimu terluka sangat dalam, saat itu engkau sedang belajar tentang
> MEMAAFKAN.
>
> Ketika engkau harus lelah, kecewa maka saat itu engkau sedang belajar
> tentang KESUNGGUHAN.
>
> Ketika engkau merasa sepi & sendiri, maka saat itu kau sedang belajar
> tentang KETANGGUHAN.
>
> Ketika engkau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu engkau
> tanggung, maka saat itu engkau sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI.
>
> Tuhan menempatkan kita di tempat kita sekarang bukan KEBETULAN.
>
> Kita tidak pernah berjalan sendiri.
>
> Tuhan memberi jalan kehidupan.
>
> Tetap Semangat.
>
> Ciayyoo...

NIKMATILAH KOPINYA

> Tak jarang kita menggerutu dan menyesali keadaan. Begitu banyak segi
> kehidupan yang membuat kita merasa tidak puas dan akhirya melupakan
> pemberian Tuhan yang sangat berharga, yaitu kehidupan itu sendiri.
> Cerita berikut ini memberikan pelajaran penting agar kita tidak terlalu
> mempersoalkan mengenai cara Tuhan "mengemas" kehidupan masing-masing
> orang.
> Suatu hari beberapa alumni University California Berkeley yang sudah
> bekerja dan mapan dalam karier, mendatangi profesor kampus mereka yang
> kini sudah lanjut usia. Mereka membicarakan banyak hal menyangkut
> pekerjaan dan akhirnya masing-masing mengungkapkan keluhan serta protes
> terhadap pekerjaan maupun kehidupan mereka.
> Sang profesor lalu ke dapur dan kembali dengan membawa seteko kopi
> panas. Disebuah nampan ia membawa bermacam-macam cangkir. Ada yang
> terbuat dari kaca, kristal, melamin, beling, dan plastik. Beberapa
> cangkir nampak indah dan mahal, tetapi ada juga yang bentuknya
> biasa-biasa saja dan terbuat dari bahan yang murah. "Silahkan
> masing-masing mengambil cangkir dan menuang kopinya sendiri," sang
> profesor mempersilahkan tamu-tamunya. Setelah masing-masing sudah
> memegang cangkir berisi kopi, profesor itu berkata, "Perhatikanlah bahwa
> kalian semua memilih cangkir-cangkir yang bagus dan yang tertinggal kini
> hanya cangkir murah dan tidak begitu menarik. Memilih yang terbaik
> adalah hal yang normal. Tetapi sebenarnya justru disinilah persoalannya.
> Ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian
> menjadi terganggu. Kalian mulai melihat cangkir yang dipegang orang lain
> dan membandingkannya dengan cangkir yang kalian pegang. Pikiran kalian
> terfokus kepada cangkir, padahal yang kalian ingin nikmati bukanlah
> cangkirnya, melainkan kopinya."
> Sesungguhnya kopi itu adalah kehidupan kita, sedangkan cangkirnya adalah
> pekerjaan, jabatan, uang dan posisi yang kita miliki. Jangan pernah
> membiarkan cangkir yang hanya merupakan wadah dari kopi tersebut
> mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Pekerjaan, jabatan dan status kita
> didalam pekerjaan atau di masyarakat hanya merupakan "wadah" yang
> seharusnya tidak mempengaruhi kualitas kehidupan kita. Orang boleh saja
> menaruh kopi didalam cangkir kristal yang mahal dan indah, tetapi belum
> tentu mereka dapat menikmati indahnya karunia kehidupan yang diberikan
> Tuhan.
> Mari kita belajar menghargai dan mensyukuri hidup ini bagaimanapun cara
> Tuhan "mengemas'nya untuk masing-masing kita. Yang penting bagaimana
> kita menyikapi anugerah kehidupan dan mengisinya dengan hal-hal yang
> benar dan positif.
>
> DOA
> Tuhan, ajarku bersyukur atas pekerjaan, jabatan dan apapun yang kumiliki
> dalam hidupku. Aku mau selalu memuliakanMu. Amin.
>
> Kata-kata Bijak
> Kebahagiaan hidup terutama ditentukan oleh faktor dari dalam diri kita,
> dan bukan dari luar diri kita

Jun 5, 2010

JAHE DAN EKARISTI

Saya yakin teman-teman pasti tidak asing dengan tanaman seperti jahe, kunir, temulawak, dsb. Tanaman obat itu berkembang biak secara menjalar dengan munculnya tunas kecil (atau stem) yang akan membesar, lulu siap akan memunculkan tunas yang baru dan seterusnya. Kalaupun dipisahkan dari induknya, jahe yang baru akan bertahan hidup. Setiap kali dipotong dan ditanam lagi, akan tumbuh tunas lagi dan seterusnya. Meskipun tanaman seperti jahe itu berkembang semakin banyak,namun induk jahe tidak pernah lalu “menonjolkan diri”, akan tetapi jahe yang sudah menua pun tetap akan tumbuh di bawah tanah. Akan tetapi kalau jahe itu ditanam di tanah dengan kedalaman humus sekitar 1-3meter, jahe itu akan tumbuh memanjang ke bawah . Bukankah tanaman jahe itu bisa menjadi lambang orang yang mampu membuat kaderisasi, namun dia tidak pernah berusaha untuk menonjolkan diri? Jahe tidak pernah punya kesempatan untuk berkata, “Akulah yang paling hebat! karena tunas-tunas jahe berikutnya dapat berdiri sendiri.” Jahe itu menunjukkan simbolisasi orang yang diutus untuk mengakader kaum muda, tidak merasa lebih tinggi, tapi justru tetap berada tersembunyi, seperti jahe tumbuh di bawah tanah.




Bukankah juga para murid sebenarnya diutus oleh Yesus dengan diberi kuasa untuk menyembuhkan dan memberitakan Kerajaan Allah, namun juga sekaligus, dipanggil untuk membuat kaderisasi dengan “mewariskan” hidup berimannya. Apa yang terjadi? Para murid belum menangkap tugas itu, sehingga Yesuslah yang turun untuk mengajarkan para murid bagaimana mereka “tergantung pada kasih Allah”, juga kalau ternyata bekal mereka tidak mencukupi, hanya 5 roti dan 2 ikan!


LIma roti dan dua ikan

Setelah para murid diberi kuasa untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit, para murid ditantang Yesus “Kamu harus memberi mereka makan!” untuk lima ribu orang laki laki, padahal belum termasuk kaum perempuan dan anak anak! Namun, jawab para rasul, “Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Kalau diungkapkan secara terang-terangan, para rasul mau mengatakan begini, “Mana mungkin lima roti dan dua ikan itu cukup untuk 5000 orang lebih? Nggak masuk akal, kalau kami diminta membaginya! Pasti ada yang tidak mendapatkan, bahkan kalau 5 roti dan 2 ikan itu sudah dipotong-potong sampai kecil sekalipun! Yesus, yang bener saja, Engkau memerintah kami tapi tidak melihat “jumlah bekal yang kami miliki!”.

Yesus tidak menjawab persoalan para murid tentang “kurangnya 5 roti dan 2 ikan”. Akan tetapi Yesus langsung menyuruh para murid untuk membentuk setiap 50 orang satu kelompok. Setelah itu Yesus mengajak para murid dan orang banyak untuk berdoa. ” Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak”. Itulah kata kata ekaristi yang selalu kita dengarkan, “diambil, diberkati, dipecah-pecahkan, dan diberikan”.

Keempat kata itu menyimpulkan saat saat penting dan istimewa dari “perjalanan hidup manusia sebagai orang yang dikasihi Allah”. Karena itu Yesus mengajak para murid untuk mengenangkan, sebagai pribadi yang DIAMBIL oleh Allah. Diambil itu berarti dipilih dan diistimewakan. Kita diciptakan bukan karena pilihan manusia tapi pilihan Allah. Karena itu kita pun dicintai Allah secara istimewa.

Pengalaman “DIBERKATI” itu tidak lain adalah pengalaman sebagai manusia yang dipersembahkan oleh Yesus kepada Bapa. Diberkati bukanlah sekedar “tanda salib yang dibuat oleh para imam”, akan tetapi diberkati itu berarti sebuah pengakuan Allah, “Engkau sungguh istimewa dalam hidup-Ku karena Engkau anak-Ku, dan bukan anak dunia! Karena itu engkau bukan kesayangan dunia ini melainkan kesayangan Allah.

Pengalaman “DIPECAHKAN” itu merangkum bahwa hidup yang penuh kasih itu selalu menuntut kesediaan terluka. “Terluka tidak lagi menjadi situasi yang tak terhindarkan tetapi mesti menjadi sikap dasar” untuk mewujudkan kasih Allah kepada sesama. Kita bukanlah sebuah “gelas cantik” yang harus dirawat dan tidak boleh disentuh orang lain.Akan tetapi kita dipanggil untuk belajar mengalami “kematian” seperti biji. Biji jagung, biji padi, biji gandum, hanya akan tumbuh menjadi tunas baru dan kemudian berkembang menjadi tanaman yang berbuah, justru karena biji biji itu “mati” di tanah yang subur. “Mati seperti biji” itulah “keterpecahan yang paling pokok”, yakni belajar kehilangan apapun yang dianggap istimewa dan yang dianggap menjadi “identitasku”.

Belajar “mati” itu sungguh berat karena kita terbiasa untuk mengatakan “rasanya barulah kita menjadi ORANG kalau kita bisa hidup nikmat, fasilitas hidup serba ada, dikatakan hebat dan saleh, memiliki kekayaan dan kesempatan untuk berkuasa. Sementara Yesus mengajak kita untuk menjadi ORANG yang berani “MENYANGKAL DIRI” atau “MENGOSONGKAN DIRI”: berani kehilangan ambisi hidup serba instant, hilang kesempatan di dipuji dan diistimewakan, dan hilang kesempatan untuk kaya dan mengontrol orang lain”.

Akhirnya orang yang sudah belajar mati, pastilah akan terbuka untuk membagi hidupnya bagi orang lain, karena dia tidak lagi sibuk untuk “mengurus dirinya sendiri”: tida lagi cari hidup serba enak sendiri, cari popularitas sendiri, dan mau menangnya sendiri. Maka dengan MEMBERIKAN roti dan ikan kepada orang banyak, para murid sebenarnya diubah “mind-set”nya ..tidak hanya mereka membagikan roti dan dua ikan itu, tapi diajak untuk “belajar mati”: tergantung pada kekuasaan kasih ALlah daripada manusia.

Dengan tindakan itu, rasanya orang banyak yang berkumpul dalam kelompok itu TIDAK TAHAN untuk tidak mengeluarkan bekalnya masing-masing! Sulit dipikirkan bahwa orang banyak itu tidak membawa bekal, pastilah di antara mereka ada yang punya bekal, namun juga tidak. Ada situasi “tidak terjadi pemerataan”, sehingga orang yang membawa bekal hanya berpikir untuk diri sendiri, “Bagaimana saya dapat membagi bekal ini untuk orang lain, padahal untuk saya sendiri saja masih belum cukup!”

Tindakan Yesus yang mengambil, mengucap berkat, memecah mecahkan dan meminta para murid untuk membagikan roti dan ikan itu akhirnya “menggerakkan” perubahan sikap orang yang membawa bekal, untuk berbagi juga. Karena itu, mukjijat penggandaan roti itu terjadi sampai 12 bakul sisanya, karena orang banyak yang membawa bekal pun, tentulah tergerak untuk “membuka bekalnya, dan meyakini akan kasih setia Allah, sehingga mereka yakin, dengan berbagi mereka tidak akan kehilangan apapun, tapi justru mereka akan menemukan “jati dirinya’ sebagai pengikut Yesus.




Demikianlah setiap kali Ekaristi, kita dipersatukan dengan Tubuh dan Darah-Nya, karena itu kita juga dipanggil untuk hidup seperti Kristus hidup, bukan lagi seperti “diriku yang hidup!” Maka saat kita menyambut Tubuh dan Darah-Nya terjadilah “PERTUKARAN” secara nyata, hati kita yang rapuh dan lemah diganti dengan hati Yesus. Itulah artinya “bersatu dengan Tubuh dan Darah-Nya”. Bersatu bukan berarti lebur seperti bubur, tetapi artinya “terjadi pertukaran” (interchange).





Soalnya adalah, apakah kita menyadari PERTUKARAN itu, sehingga kita pun tertantang terus menerus untuk menampilkan gaya hidup Kristus di tengah dunia: rendah hati seperti tanaman jahe tadi, menjadi orang tua yang mendidik anak anaknya sampai mandiri, namun juga tidak merasa dirinya yang paling “hebat” dibanding anaknya; menjadi kaum religius dan rohaniwan yang mampu menumbuhkan motivasi, namun juga tidak terjebak dalam kepuasan diri, untuk dikatakan orang yang luar biasa.







Semoga Roh Allah mengubah hati kita agar terbentuklah komunitas basis yang ekaristis: memiliki semangat kerendahan hati untuk saling berbagi.

Selamat merayakan Tubuh dan Darah Kristus
B Slamet Lasmunadi Pr