Pater Wijbrand

Pater Wijbrand
CRESCAT ET FLOREAT

Jan 6, 2011

Reportase Reuni Akbar Alumni - HUT 60

REUNI AKBAR ALUMNI DAN HUT KE-60 TAHUN SEMINARI MENENGAH STELLA MARIS BOGOR

Seminari Menengah Stella Maris Bogor merayakan HUT Ke-60 tahun dan Reuni Akbar Alumni dengan Misa konselebrasi yang dipimpin Uskup Bogor, Mgr.Michael Cormas Angkur OFM, di Seminari Menengah Stella Maris, Bogor, Jawa Barat, Minggu, 28/11/2010.

Uskup Bogor, Mgr Michael Cosmas Angkur OFM, memimpin Misa didampingi Rektor Seminari Menengah Stella Maris, RD Niklaus Jatmiko Pr. Acara ini dihadiri sekitar 650 undangan dan alumni Seminari Menengah Stella Maris dari seluruh angkatan.

Mgr Angkur berpesan, "Para alumni dan para seminaris harus mempunyai jiwa misionaris karena sudah lama kita harus berdiri sendiri tanpa ada lagi misionaris dari Eropa."

Pastor Jatmiko Pr, menambahkan, menurut statistik, seminaris yang lulus dan ditahbiskan menjadi pastor hanya 9,8 persen saja. "Yang penting bukan jumlah tetapi kualitas. Seminari mendidik anak – anak menjalani hidup lebih baik. Hingga saat ini, sekitar 1.900 orang pernah sekolah di Stella Maris. Namun, hanya 125 orang saja yang menjadi imam," tuturnya.

Hal ini ditanggapi Sihite Stella, salah satu alumnus Stella Maris. Ia mengalami didikan almarhum Pater Remedius Wijbrands OFM, mantan rektor Seminari Menengah Stella Maris ketika seminari masih menempati sebuah bangunan yang saat ini menjadi Gereja Santo Fransiskus Assisi Sukasari, Bogor.

"Saya bersyukur, karena didikan seminari membuat kita menjadi manusia yang lebih handal, tangguh, bertanggung jawab, mandiri,dan disiplin. Pendidikan seperti ini tidak akan saya dapatkan bila bersekolah di sekolah biasa," ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan pemotongan kue oleh Mgr Angkur, diiringi Mars Stella Maris. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai acara hiburan, berupa degung, band akustik, dan teater oleh para seminaris. Ada juga lelang foto-foto lama maupun lukisan-lukisan Pater Remedius Wijbrands dalam beberapa versi. Acara berlangsung hingga larut malam.
(M.BambangS./HIDUP No.50 12 Desember 2010/Dhapur)

Nov 28, 2010

KESAN PESAN REUNI 2010

Selamat sore rekans.Acara reuni sudah selesai tapi beberapa orang masih melanjutkan kebersamaan.Sementara menunggu misa,saya mengirimkan berita ini.Saat ini,saya,beko,bosman dan putut masih bersama.Mereka akan naek ke puncak bersama saya setelah saya menyelesaikan tugas misa.
Mungkin malam ini kami akan adakan reuni part II di santo yusup bersama denga para saudara dari cianjur yang kemaren tidak sempat hadir.Meskipun mata sudah berat namun semangat tetap menyala untuk berkumpul.
Hal lain yang lebih penting adalah masalah buku P.Wijbrans.Saat ini buku tersebut masih tersisah banyak dan modal untuk biaya cetak pun belum tertutup.Oleh karena itu bagi para teman yang belum memiliki tetapi sangat ingin memiliki maka bisa menghubungi seminari karena buku tersebut ada di seminari.Semoga buku ini lekas habis sehingga bisa menutup biaya cetak dan membantu alma mater.Anda yang ingin memesan,silahkan pesan dan transfer uangnya baru akan dikirimkan bukubnya.Terimakasih atas kerjasama temans semua


Salam,
~Dedie K OFM~

--------------------------------------------------------------------------------

KESAN PESAN REUNI 2010

Para sahabat yang terkasih,
Rangkaian demi rangkaian mulai berlalu tapi kita masih menantikan acara penting ucapan syukur dalam perayaan ekaristi kudus dengan selebran utama Mgr.Michael Angkur OFM.
Di awali dengan ibadat di makam kali mulya yang dipimpin oleh Rm.Yulius OSC,beberapa alumni sekitar 30an orang yang sudah hadir sejak kemarin,mendoakan para manta rektor dan pamong kita yang telah wafat.Selesai sekitar pukul 9,peserta kembali ke seminari.Pagi tadi mulai berdatangan satu per satu alumnus dr setiap angkatan.Cukup berkecil hati karena sampai pada acara rekoleksi yang dipimpin oleh romo rektor,peserta yang datang juga belum begitu banyak.Mungkin baru sekitar 60an orang.Roimo rektor dala rekoleksinya mengajak dan menyadarkan kita akan peran panggilan kita dalam Gereja.Terlebih lagi beliau juga menggugah kita untuk melihat kebutuhan nyata alma mater kita terutama dalam kebutuhan operasional.Mengerikan jika melihat pendapatan yang masuk dari para seminaris hanya 50% dari total pengeluaran yang dibutuhkan.Darimanakah sisanya harus ditutup?Inilah sentuhan dan harapan romo rektor pada kita para alumni.Tergerakkah kita?
Selesai rekoleksi,sekita pukul 12.30,acara dilanjutkan dengan santap siang.Dalam doa makan,kita juga mendoakan rekan kita Pastor Antonius Pramono SCJ yang merayakan hari ultah imamatnya yang ke 13 dan Frans Widyanto merayakan hari ultah kelhirannya yang ke 38 tepat pada hari ini.
Rupanya seminari mulai terasa semakin sempit ketika para alumnus lainnya mulai kembali berdatangan.Meskipun cuaca mendung dan sedikit diguyur hujan,tetapi tidak mengurangai kebahagiaan dan keceriaan para alumnus.Sampai berita ini ditulis,para alumnus masih bercanda ria melepas rindu dan melihat putaran film kehidupan masa lalu melalui celotahan ringan dan lucu serta obrolan2 serius namun santai.Sebagian panita mulai terlelap untuk mengumpulkan tenang kembali menghadapi acara nanti sore sampai malam.Masih ada beberap acara penting yang harus di jalani.Selain perayaan ekaristi,maka akan diadakan juga acara lelang untuk menggalang dana bagi program pembangunan seminari dan pengenalan buku P.Wijbrands yang dibuat oleh Sdr.Bobby PR.Mohon dukungan teman2 semoga acara ini dapat berjalan lancar,dan teristimewa semoga kita bisa memberikan sesuatu yang saat ini sangat dibutuhkan oleh para seminaris.
Tidak lupa saya menyapa teman2 yang tidak hadir.Jangan anda kecewa tetapi masih banyak yang bisa anda lakukan.Jika anda tergugah maka anda bisa hadir dalam dukungan dana yang bisa ditransfer ke nomor rekening panti eh salah...maksud saya rekening seminari.Jika berminat maka akan saya sampaikan nomor rekening tersebut.Demikian sekilas laporan pandangan mata.Semoga dapat melepas kerinduan teman2 juga.


Salam,
~Dedie K OFM~

--------------------------------------------------------------------------------

KESAN PESAN REUNI 2010

Rekans, suasana reuni masih terasa sepertinya belum dan mungkin tidak akan pernah cukup waktu untuk bermemori bersama saudara2 yang pernah hidup seatap di Stella Maris. Banyak cerita kisah selama hidup bersama...untuk selalu menjalin kebersamaan kita mohon rekan2 yang belum tergabung dalam milist atau facebook d.larista bisa diajak untuk bergabung.
Facebook d.larista bs diinvite dgn email d.larista@yahoo.com atau dengan nama Stella Maris d'larista.
Salah satu sarana komunikasi utk rekan2 yang memiliki ‎​ bisa di share pin ‎​ kalian akan segera di invite dlm group.

Mohon rekan2 yang sempat mendokumentasikan acara reuni kemarin dapat mengirimkan ke milist atau facebook d.larista.

Terima kasih rekan sekalian....indahnya kebersamaan dalam satu hati....Crescat et Floreat...

Salam,
B Dimas Handoko
Co Moderator

KESAN PESAN REUNI 2010

hari ini minggu,,,tapi kenangan indah memory temu kangen sungguh tidak bias begitu saja saat ingatan terlintas masa2 20 tahun yg lalu sekelebat muncul,,,seakan akan tombol on terputar,,sungguh indah...saat kemarin kami duduk sore di eks tampomas mas Anton Beller, Rm Alparis, Rm Yosef Watun, mas Hans Funan dan saya, sungguh merupakan saat sedang minta ijin untuk foto copy sama Pater Rector...lalu seperti biasa kembali keseminari masuk matahari ngedinginin badan,,,Rm Alparis seperti biasa ngajak nyari bakwan dan combro hehehe ngajak ceting bareng,,,,

sungguh acara Reuni yg sangat berkesan, makan malam banyak teman2 yg kami temui menyapa, tertawa, senda gurau, bahkan kami tidak bisa lagi membedakan mana awam, para romo, propinsial, rector sugguh tidak ada batasan,,,yg ada hanya persaudaraan dan persaudaraan,,,saya sendiri walaupun sudah punya anak dua tapi merasa saya sdh menjadi romo di paroki entah berantah hehehehe.....

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih sedalam dalamnya untuk Rm Yulius OSC ( thanks juga atas korek apinya bro ), Rm Deddie, Paman Arnoko, Abang Campur, Kakak Hermawan Gouw, Mas Bobby Patiradja ( buku mu sangat bagus bro thanks ), dan para panitia lainnya....
Anda semua sungguh luar biasa,,,, melalui tangan dan ide kalian semua acara semalam sungguh menjadi acara yg terberkati dan berkesan di hati kami....

semoga kedepannya persaudaraan kita menjadi lebih kental dan akrab sesama alumni dan dapat melakukan yg terbaik buat seminari kita

sekali lagi terimakasih bro,,,,salam hangat dari saya
Stefanus Ope Tolok

DANA REUNI 2010

Dear All,

Sebenarnya Panitia tidak mau berbicara masalah biaya namun karena ada rekan yang bertanya maka dengan sangat senang berikut ini kami uraikan perincian biaya siapa tahu ada para alumnus yang mau membantu penjualan Buku Pater Wijbrand
Modal acara ini kurang lebih sebagai berikut :
•Cetak buku Pater Wijbrands Rp.17.000.000,-- (untuk 500 eksemplar)
•Kunsumsi yg dikeluarkan Rektor Rp. 30.000.000,--
•Bis Rp. 1.200.000,--
•Modal lukisan Rm Yulius Rp. 3.000.000,--
•Modal Likisan Hedi Gustino Rp. 2.000.000,--
•Sumbangan Karpet Rp. 5.300.000,-- (sumbangan)
•Soft Drink (kaleng) Rp. 3.000.000,-- (sumbangan)
• Total Rp. 61.200.000,--
Belum termasuk sewa sound system ..

Nah bagi rekan rekan yang mau membantu, tolong beli buku Pater Wijbrand karena menurut catatan yang saya terima dari Rekter yang terjual hanya 79 buku x Rp. 75.000 = Rp.5.925.000,--

Atau jika ada yang berminat mau beli buku silahkan hubungi kami dan uang transfer ke rekening Seminari a/n : Yohanes Driyanto atau Nikasius Jatmiko , Rek No.8410101000, BCA

Wassalam
LS

Aug 25, 2010

Bau Tanah Selepas Hujan

.......:
"Tuhan juga bukan soal teologi seperti apa dan filsafat aliran mana,
sehingga konstruksi di luar skenario pikir kita itu sesat dan bidah.
Tuhan itu adalah soal apa yang kita yakini ketika kita bertindak.
Tindakan yang kita lakukan dengan kesungguhan hati, telah menjadi doa
dan madah. Maka, hidup ini adalah sebuah kitab suci tertua dan
terbuka yang ditulis oleh Tuhan sendiri, alam ini adalah ruang ibadah
kita tanpa dinding dan tanpa atap, sesama kita adalah wujud
wajah-wajah Tuhan
yang menyamar yang perlu kita layani dengan setulus hati dan tindakan
kita adalah ritual suci di hadapan altar agung Yang Illahi."....

Terusannya di bawah ini:

Bau Tanah Selepas Hujan

Apa yang kita lakukan dalam hidup ini sebenarnya tidak begitu penting,
yang lebih penting adalah kita telah melakukannya. Manusia
mendefinisikan dirinya dengan perilakunya. Apa yang telah kita
lakukan, sebenarnya sudah kita lakukan dan kita tidak bisa mengubah
apa yang sudah terjadi. Kita hanya bisa mengubah apa yang belum
terjadi.

Dalam banyak tradisi kerohanian, tindakan adalah laku tertinggi dalam
praktek kesucian. Doa melalui tindakan (contemplatio in actione)
menempati level tertinggi dari hirarki doa itu sendiri.
Manusia-manusia suci tak tergantung lagi dengan ritual untuk
memanjatkan doa, tak tergantung lagi dengan tempat ibadah untuk
hening. Melalui tindakan, mereka berdoa dalam perilaku yang sederhana
setiap hari. Manusia seperti ini tak terganggu oleh kebisingan
sekitar,

atau terganggu oleh kesibukan yang menumpuk. Setiap tarikan nafas,
kedipan mata, gerakan tubuh, ucapan kata, adalah gerakan-gerakan doa
yang dia lakukan. Tindakan adalah rumah ibadahnya.

Suatu hari, ada iring-iringan Raja dengan segenap pengawalnya. Kereta
berkuda berderap ramai memasuki suatu desa, hingga menggugah hampir
seluruh warga berdiri di pinggir jalan, ingin melihat bagaimana raja
dan rombongannya lewat. Di sela-sela keramaian, ada seorang pemuda
yang berjalan menyusuri jalan tersebut, hingga ia melihat ada seorang
pandai besi yang tetap bekerja menempa besi-besi yang sudah
dipanggangnya di api. Si pandai
besi itu kelihatannya tidak terusik dengan kedatangan sang Raja, ia
tetap bekerja seperti sedia kala. Maka pemuda itu mendekatinya dan
bertanya, "Apakah kamu tahu, siapa yang baru saja lewat di pinggir
jalan?" Lalu si pandai besi itu menjawab, "Aku tidak tahu." Maka,
sejak saat itu, si pemuda memutuskan untuk berguru kepada si Pandai
Besi dan menjadi muridnya.

Banyak orang beragama saat ini menjadi cengeng. Sedikit ada suara
berisik di luar tempat ibadah, mereka marah-marah dan merasa terusik.
Ada seorang pemuka agama yang marah-marah di atas mimbar, karena di
belakang ada suara
anak-anak yang sedang bermain dan ada yang menangis. Pemuka agama ini
mengatakan, suara-suara itu mengganggu kekusukan dan kekidmatan
berdoa. Suatu kali, Yesus sedang mengajar orang-orang yang berkerumun
mengikuti-Nya,
hingga tiba-tiba Ia mendengar suara gaduh anak-anak di luar yang
hendak masuk ke ruangan tetapi diusir oleh para murid-Nya. Maka Yesus
berkata, "Kenapa kalian usir anak-anak itu, biarkanlah mereka masuk,
sebab anak-anak inilah yang empunya Kerajaan Surga. Kalau kalian tak
mau menjadi seperti anak kecil ini, kalian akan kehilangan surga."
Jika Tuhan hanya kita temukan
di tempat yang tenang dan damai, ber-AC dan bersih, dan tidak bisa
kita temukan di tempat yang berisik dan kumuh, maka kita telah
menemukan Tuhan yang salah.

Si Pandai Besi, adalah teladan kita, bahwa dalam pekerjaannya dia
sedang melakukan hubungan yang intim dengan Tuhan, sampai-sampai,
suara-suara di luar sana menjadi tiada. Keintiman dan keheningan kita
bersama Tuhan, mengalahkan keramaian dan kegaduhan yang ditimbulkan
oleh dunia ini.
Suara-suara di luar sana, tak ubahnya suara televisi atau radio, bisa
kita atur volumenya, besar atau kecil, atau kita matikan sama-sekali.
Si Pandai Besi adalah teladan kita, bahwa ibadah dan perilaku, adalah
satu.

Sesungguhnya, kita tak pernah benar-benar percaya, bahwa Tuhan itu
ada. Para filsuf menyebutnya, ateisme praktis, ketidakpercayaan pada
Tuhan dalam tindakan, meskipun selalu memuji dan mengakui-Nya. Vijay
Eswaran, seorang
pejiarah batin, menulis begini, "Jika Anda menerima Tuhan, Anda harus
memahami bahwa Dia ada dalam semua yang kita lakukan. Dalam semua
relasi. Dalam semua tantangan. Dalam semua rintangan. Kerja sebagai
ibadah jika dilakukan bersama-Nya di pikiran kita. Jika tanpa
menyertakan Dia, pekerjaan
itu akan menjadi pengakuan dosa." Tuhan itu bukan soal dimana Dia
berada sehingga kita membangun sebuah rumah untuk berdoa atau sebuah
tempat yang kita sebut tanah suci. Bukan soal kapan waktu yang tepat
untuk bertemu dengan-Nya, sehingga kita menetapkan hari dan waktu
tertentu untuk berdoa.
Seorang sufi menulis, "Mereka yang jauh dari Ka'abah berdoa dengan
menghadap Ka'abah. Tetapi mereka yang berada di dalam Ka'abah, berdoa
menghadap kemanapun yang mereka inginkan." Semua tempat suci dan semua
waktu bernilai
di mata Tuhan. Jika tidak, kenapa Dia menciptakan- Nya. Tuhan juga
bukan soal teologi seperti apa dan filsafat aliran mana, sehingga
konstruksi di luar skenario pikir itu sesat dan bidah. Tuhan itu
adalah soal apa yang kita yakini ketika kita bertindak. Tindakan yang
kita lakukan dengan kesungguhan hati, telah menjadi doa. Maka, hidup
ini adalah sebuah kitab suci tertua dan terbuka yang ditulis oleh
Tuhan sendiri, alam ini adalah ruang ibadah kita
tanpa dinding dan tanpa atap, sesama kita adalah wujud wajah-wajah
Tuhan yang menyamar yang perlu kita layani dengan setulus hati dan
tindakan kita adalah ritual suci di hadapan altar agung Yang Illahi.
Suatu kali, seorang sahabat mengirim sebuah puisi yang ditulis W.S.
Rendra (Almarhum) kepada saya. Puisi ini, katanya ditulis ketika
beliau sedang terbaring sakit di ranjangnya sebelum meninggal. Saya
mengutipnya di sini untuk bekal perjalanan kita ke dunia hati.

Seringkali aku berkata, ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya:

Mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,

Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,

Kusebut itu sebagai ujian,

Kusebut itu sebagai petaka,

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,

Ingin lebih banyak mobil,

Lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,

Seolah semua "derita" adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya

Harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

Dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku"

Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,

Padahal tiap hari kuucapkan,

Hidup dan matiku hanya untuk beribadah.

"Ketika langit dan bumi bersatu,

Bencana dan keberuntungan sama saja".....

Semua manusia akan mati, tetapi hanya orang-orang tertentu yang tetap
kita kenang. Apa yang kita kenang dari mereka? Kita mengenang apa yang
telah mereka lakukan untuk peradaban dan kemanusiaan, untuk kehidupan
yang lebih
baik di dunia ini. Kita tidak sekedar mengenang apa yang mereka
katakan, tetapi mengenang tindakan yang terekam dalam kata-kata
mereka. Kita memang
mempercayai orang dengan kata-katanya, tetapi kita menghargai mereka
dengan perilakunya. Maka jika Anda ingin meninggalkan jejak kenangan
dalam hidup ini, hiduplah seperti hujan yang turun ke bumi, setelah
selesai, dia akan meninggalkan bau harum dari tanah yang dibasahinya.
Tinggalkan perbuatan yang baik, perilaku yang bermartabat, dan
tindakan yang membawa kemuliaan.

Jangan menunggu, waktu tidak akan pernah "benar-benar tepat".

Mulailah dari tempat Anda berdiri sekarang,

dan bekerjalah dengan menggunakan alat apapun yang Anda miliki,

dan alat-alat yang lebih baik akan ditemukan

saat Anda melakukan pekerjaan Anda

(Napoleon Hill)

--
"Only two things are infinite: The universe and human stupidity. And I
am not so sure about the former." Einstein.
(Please delete it from your files if you are not interested. Thank you
for your kind compliance).