anak katak & hujan......
Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap.
"Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya.
Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.
"Anakku," ucap sang induk kemudian.
"Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai.
Dan anak katak itu pun mulai tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Tiba-tiba angin bertiup kencang.
Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin.
Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu? " tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.
"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan.
"Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan.
Dan anak katak itu pun mulai tenang.
Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan."Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar.
Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan.
Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa.
Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar.
"Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus memejamkan mata.
"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai.
"Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.
Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya.
Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan.
Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan.
Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan.
Tidak disegarkan dengan wewangian harum.
Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan.
Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan.
Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.
Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi.
Karena hujan yang ditunggu akan datang.
Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.
D-LARISTA (peDuli stelLa maRIS kiTA). Blog ini adalah media temu rasa, karsa, dan karya para sakerawan ex Seminaris Stella Maris Bogor. Wilujeng sumping, sahabat sakerawan... Tuhan memberkati kita semua, amin.
Pater Wijbrand
CRESCAT ET FLOREAT
Feb 15, 2009
Masalah adalah Hadiah
Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkinakan menghindarinya.
Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan, anda mungkin akan menghadapinya.
Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terimadengan suka cita.
Dengan pandangan tajam, anda melihat keberhasilan di balik setiap masalah.
Itu adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi.
Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda.
Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan.
Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi.
Bukan pula, eraman hangat dimalam-malam yang dingin.
Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi.
Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan,matilah aku.
Sesaat kemudian, bukan kematian yang mereka terima,namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang.
Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak kanmenjadi seseorang yang sejati
Sumber : Anonymous
Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan, anda mungkin akan menghadapinya.
Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terimadengan suka cita.
Dengan pandangan tajam, anda melihat keberhasilan di balik setiap masalah.
Itu adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi.
Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda.
Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan.
Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi.
Bukan pula, eraman hangat dimalam-malam yang dingin.
Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi.
Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan,matilah aku.
Sesaat kemudian, bukan kematian yang mereka terima,namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang.
Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak kanmenjadi seseorang yang sejati
Sumber : Anonymous
Feb 12, 2009
Renungan Inspiratif: Kembang Bakung
Seorang anak sambil menangis kembali ke rumah. Ia menangis semakin keras ketika bertemu ibunya. Ia merasa segala usahanya tidak dihiraukan baik oleh guru maupun teman-teman kelasnya. Ia telah berusaha, namun seakan-akan usahanya tidak layak dihargai. Ia menjadi benci akan teman-temannya. Ia menjengkeli gurunya. Setelah mendengar keluhan anaknya, sang ibu bertanya: 'Pernahkan engkau memperhatikan kembang bakung milik tetangga di lorong jalan ke rumah kita?' Anak itu menggelengkan kepala. 'Bakung itu berkembang setiap pagi, dan di akhir hari kembang bakung tersebut akan layu dan mati. Namun sebelum mati, ia telah memberikan yang terbaik, ia telah memancarkan keindahannya.' Anak itu berhenti menangis dan mendengarkan dengan penuh hati. 'Setiap hari ia memberikan keindahan yang sama. Setiap hari ia memberikan keharuman yang sama walau kadang tak dihiraukan orang. Keindahannya tak pernah berkurang karena engkau tak pernah memperhatikannya. Ia tidak pernah bersedih bila tak diperhatikan orang, karena ia tahu bahwa dalam hidupnya ia cuman punya satu misi yakni memberikan keindahan.' Anak itu memahami maksud ibunya. ___________ -Kembang bakung seorang guru yang mengajar: 'Hidupmu ada di telapakmu sendiri, bukannya dalam genggaman tangan orang lain.'
Renungan Harian
Senin, 9 Februari 09
Mark 6:53-56 Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh
Rangkuman pelayanan Yesus ini serasa sensasional. Namun sesungguhnya berita ini sama sekali bukan dimaksudkan untuk menjadi berita sensasi mujizat Yesus, melainkan berita kenyataan betapa Yesus mewartakan kabar keselamatan dengan penuh kuasa. Kita sering menggebu seperti memaksakan mujizat Yesus agar terjadi, tetapi apakah setiap sikap kita sungguh meyakini kuasa ilahi Yesus? Keyakinan inilah yang akan penuh daya, membuat jiwa yang kagum akan Yesus, yang lebih dari sekedar pembuat mujizat melainkan Putra Manusia yang penuh kuasa dari Bapa.
Selasa, 10 Februari 09
Mark 7:1-13Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"
7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku
Baru saja ditayangkan ke public percakapan dari “The Miracle of Hudson River”, pendaratan darurat pesawat US Air di Sungai Hudson . Pengatur lalu lintas bandara Laguardia meminta Pilot Suly Sullenberger mendaratkan pesawat di bandara terdekat, tetapi pilot mempertimbangkan beberapa hal, tak mungkin bisa menjangkau bandara, ia tak mau menjatuhkan pesawat di tempat padat penduduk, dan ia mau meyelamatkan penumpang. Jadilah ia memutuskan untuk mendarat di sungai. 155 penumpang selamat. Setiap orang akan mengatakan tidak wajar, namun menyelamatkan. Yesus tahu bahwa pilihannya menyalahi aturan setempat, tetapi Ia lebih memikirkan keselamatan umat manusia. Ia menempatkan nilai keselamatan jiwa manusia lebih dari pada hari sabat. Bagaimanakah pilihan-pilihan kita? Apakah hanya kita landasi oleh kebiasaan dan aturan, atau lebih kita landasi dengan tujuan besar, yakni keselamatan umat manusia sekitar kita?
Rabu, 11 Februari 09
Mark 7:14-23
” ......camkanlah, apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."
Sungguh ironis ketika kita pusing mengatur yang masuk ke mulut kita, dan bebal untuk menyensor yang keluar dari mulut kita. Orang katolik pun ikut bertanya-tanya, kenapa kita menjadi ”omnivora”, sindiran untuk pemakan segalanya. Yesus sangat tegas untuk mengatakan bahwa dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Itulah yang menajiskan kita. Yesus rupanya tak mau berpanjang lebar, karena itu ia mengatakan ”yang bertelinga hendaknya mendengarkan”. Ada yang merasa tak bertelinga?
Kamis, 12 Februari 09
Mark 7:24-30Lalu Yesus berkata kepada perempuan Sirofenesia "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."
Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."
Siapa tak tersinggung kalau diidentikkan dengan anjing? Perempuan Sirofenesia tadi tidak tersinggung pada kata-kata Yesus, bukan karena ia telah menjual harga dirinya demi kesembuahan anaknya, tetapi karena ia tahu persis cara kerja rahmat Allah yang tak mengenal tuan dan hamba, warga atau orang asing. Kasih Allah bekerja tanpa batas dan perbatasan. Iman besar inilah yang menyelamatkan perempuan tersebut. Anda masih nempatkan banyak batas bagi sesama untuk bisa dekat dengan Yesus hanya karena status hidup mereka atau karena mereka adalah ”orang luar?” Buang cara beriman seperti itu sekarang juga, karena hanya akan menjadi kabut bagi anda untuk menangkap keselamatan yang sesungguhmya.
Jumat, 13 Februari 09
Mark 7:31-37
Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah.
Biasanya Yesus tak terlalu demonstratif untuk menyembuhkan orang, tetapi untuk yang satu ini Yesus melakukan banyak hal. Yesus tahu bahwa orang ini bisu karena tak bisa mendengar. Yesus memberi petunjuk betapa ia hendak menyembuhkan semua bagian bersama-sama. Benar orang ini bisa terlepas dari ikatan tuli dan bisunya. Yang menarik adalah bahwa orang ini kemudian tak terbendung untuk segera mewartakan Yesus. Kalau anda merasa telah mendengarkan Yesus, apakah anda juga segera mewartakannya, atau tetap membisu?
Sabtu, 14 Februari 09
Mark 8:1-10"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. .................... Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?"
Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?
Kita boleh senantiasa bersyukur bahwa kita punya Tuhan yang penuh kasih seperti ini. Pertanyaanya berlaku untuk kita semua terus menerus “Berapa roti ada padamu?” Jawanlah pertanyaan ini, lakukan sesuatu, dan anda akan melihat betapa belas kasih Yesus akan berulang ketika kita merelakan roti/jaminan hidup kita bagi sesama.
(rmparno)
Mark 6:53-56 Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh
Rangkuman pelayanan Yesus ini serasa sensasional. Namun sesungguhnya berita ini sama sekali bukan dimaksudkan untuk menjadi berita sensasi mujizat Yesus, melainkan berita kenyataan betapa Yesus mewartakan kabar keselamatan dengan penuh kuasa. Kita sering menggebu seperti memaksakan mujizat Yesus agar terjadi, tetapi apakah setiap sikap kita sungguh meyakini kuasa ilahi Yesus? Keyakinan inilah yang akan penuh daya, membuat jiwa yang kagum akan Yesus, yang lebih dari sekedar pembuat mujizat melainkan Putra Manusia yang penuh kuasa dari Bapa.
Selasa, 10 Februari 09
Mark 7:1-13Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"
7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku
Baru saja ditayangkan ke public percakapan dari “The Miracle of Hudson River”, pendaratan darurat pesawat US Air di Sungai Hudson . Pengatur lalu lintas bandara Laguardia meminta Pilot Suly Sullenberger mendaratkan pesawat di bandara terdekat, tetapi pilot mempertimbangkan beberapa hal, tak mungkin bisa menjangkau bandara, ia tak mau menjatuhkan pesawat di tempat padat penduduk, dan ia mau meyelamatkan penumpang. Jadilah ia memutuskan untuk mendarat di sungai. 155 penumpang selamat. Setiap orang akan mengatakan tidak wajar, namun menyelamatkan. Yesus tahu bahwa pilihannya menyalahi aturan setempat, tetapi Ia lebih memikirkan keselamatan umat manusia. Ia menempatkan nilai keselamatan jiwa manusia lebih dari pada hari sabat. Bagaimanakah pilihan-pilihan kita? Apakah hanya kita landasi oleh kebiasaan dan aturan, atau lebih kita landasi dengan tujuan besar, yakni keselamatan umat manusia sekitar kita?
Rabu, 11 Februari 09
Mark 7:14-23
” ......camkanlah, apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."
Sungguh ironis ketika kita pusing mengatur yang masuk ke mulut kita, dan bebal untuk menyensor yang keluar dari mulut kita. Orang katolik pun ikut bertanya-tanya, kenapa kita menjadi ”omnivora”, sindiran untuk pemakan segalanya. Yesus sangat tegas untuk mengatakan bahwa dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Itulah yang menajiskan kita. Yesus rupanya tak mau berpanjang lebar, karena itu ia mengatakan ”yang bertelinga hendaknya mendengarkan”. Ada yang merasa tak bertelinga?
Kamis, 12 Februari 09
Mark 7:24-30Lalu Yesus berkata kepada perempuan Sirofenesia "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."
Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."
Siapa tak tersinggung kalau diidentikkan dengan anjing? Perempuan Sirofenesia tadi tidak tersinggung pada kata-kata Yesus, bukan karena ia telah menjual harga dirinya demi kesembuahan anaknya, tetapi karena ia tahu persis cara kerja rahmat Allah yang tak mengenal tuan dan hamba, warga atau orang asing. Kasih Allah bekerja tanpa batas dan perbatasan. Iman besar inilah yang menyelamatkan perempuan tersebut. Anda masih nempatkan banyak batas bagi sesama untuk bisa dekat dengan Yesus hanya karena status hidup mereka atau karena mereka adalah ”orang luar?” Buang cara beriman seperti itu sekarang juga, karena hanya akan menjadi kabut bagi anda untuk menangkap keselamatan yang sesungguhmya.
Jumat, 13 Februari 09
Mark 7:31-37
Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah.
Biasanya Yesus tak terlalu demonstratif untuk menyembuhkan orang, tetapi untuk yang satu ini Yesus melakukan banyak hal. Yesus tahu bahwa orang ini bisu karena tak bisa mendengar. Yesus memberi petunjuk betapa ia hendak menyembuhkan semua bagian bersama-sama. Benar orang ini bisa terlepas dari ikatan tuli dan bisunya. Yang menarik adalah bahwa orang ini kemudian tak terbendung untuk segera mewartakan Yesus. Kalau anda merasa telah mendengarkan Yesus, apakah anda juga segera mewartakannya, atau tetap membisu?
Sabtu, 14 Februari 09
Mark 8:1-10"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. .................... Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?"
Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?
Kita boleh senantiasa bersyukur bahwa kita punya Tuhan yang penuh kasih seperti ini. Pertanyaanya berlaku untuk kita semua terus menerus “Berapa roti ada padamu?” Jawanlah pertanyaan ini, lakukan sesuatu, dan anda akan melihat betapa belas kasih Yesus akan berulang ketika kita merelakan roti/jaminan hidup kita bagi sesama.
(rmparno)
Renungan: Sembuh Karna Mau Disentuh
Minggu Biasa VI (B/II)
"Sembuh, karna Mau Disentuh"
Im 13:1-2.45-46; 1Kor 10:31-11:1; Mrk 1:40-45
Sebuah luka, pasti sakit sekali kalau kena meja. Biasanya, kalau anggota badan kita terluka, kita akan hati-hati saat berpapasan dengan orang lain, jangan sampai orang menyenggol luka kita. Kalau luka itu sampai tersenggol, apalagi terinjak, kita pasti langsung mengaduh-aduh, atau menahan rasa sakit sambil mengernyitkan wajah. Kadang-kadang kita sengaja menunjukkan ekspresi wajah yang kesakitan itu ke orang lain, supaya orang itu sadar bahwa ia sudah menyenggol luka kita. Dengan kata lain, kalau kita sedang terluka atau sakit, kita itu tidak boleh disentuh oleh siapapun. Kita lalu menjadi untouchable, "tak tersentuh". Kita seperti seseorang yang sakit parah namun mengusir dan mengancam semua perawat yang mencoba merawatnya.
Dari orang-orang yang terluka, baik jasmani maupun hatinya, kita bisa mengamati reaksi yang diperlihatkannya. Sekurang-kurangnya ada dua reaksi. Pertama, ia akan menjauh, mengambil jarak, atau tiba-tiba menghilang. Ia menjauh karena malu dan takut, merasa terkutuk, kotor, dan berdosa. Yang kedua, orang itu sengaja memutus hubungan, tapi lebih karena gengsi, kecewa, dan demi harga diri. Secara tidak sengaja ia akan melemparkan kesalahan pada orang lain, "Saya tidak akan minta tolong kamu lagi!" Kedua reaksi ini muncul dari hati yang terluka karena ditolak, dikritik, dan dikoreksi, maupun juga karena sebuah kesalahan yang sebenarnya tak ingin dilakukannya tapi toh telanjur terjadi.
Orang kusta yang datang kepada Yesus ini hebat sekali! Seandainya kita tahu seperti apa perlakuan masyarakat terhadap orang kusta pada waktu itu, kita pun akan kagum dan menghargai perjuangannya itu. Kitab Imamat (Bac.I) menunjukkan kesulitan dan kehinaan macam apa akan yang dialami kalau orang kena penyakit kusta: "mereka harus berpakaian cabik-cabik, rambutnya terurai, menutupi mukanya dan berseru-seru: Najis! Najis! Memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkampungannya!" Konon, mereka harus membunyikan lonceng kecil kalau mau lewat di sebuah jalan supaya orang-orang di situ bisa menyingkir dari mereka dan meludah dengan jijik. Menyedihkan dan mengharukan! Orang yang sudah menderita karena penyakitnya, masih harus dibuang seperti binatang dan mengutuki dirinya sendiri!
Kalau saja Markus menggambarkan lebih lengkap situasi waktu itu. Orang-orang yang berkerumun di sekitar Yesus pasti panik dan berteriak-teriak karena ada orang sakit kusta yang mendekati mereka. Mereka pasti sudah berusaha mengusir atau melempari batu orang itu supaya jangan mendekat. Terbayang bahwa orang itu tetap merangsek maju karena ia mau bertemu dengan Yesus. Ia mau sembuh! Ia pasti membiarkan batu-batu itu melayang ke muka dan badannya. Ia menahan diri dari hinaan dan ludahan orang-orang yang menghalangi jalannya.
Sekarang kita mengerti mengapa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia benar-benar terharu karena iman orang ini. Ia bahkan lebih lagi membuat takut banyak orang karena kemudian mengulurkan tangan-Nya, dan… menjamah orang itu! (Tidak ada orang yang berani menjamah penderita kusta pada waktu itu. Tindakan ini melanggar hukum!).
Di zaman kita ini, bukan beberapa, tapi hampir semua orang pernah terkena "kusta". Hampir semua orang pernah jatuh dalam kesalahan, pernah terlibat dalam sebuah skandal, pernah berdosa, pernah "habis" hidupnya karena dikucilkan, dijauhi, dan dihina oleh orang lain karena kesalahan yang dilakukan itu. Akan tetapi, berapa banyak yang berani mengambil risiko untuk disembuhkan? Berapa kali kita dengar kata-kata, "Kalau engkau mau, tolonglah aku…"? Berapa banyak yang mau mendekat dan membiarkan lukanya itu disentuh supaya sembuh? Kengerian akan risiko-risiko itu telah membuat kita selalu mundur teratur, memilih tenggelam dalam kesusahan kita, malah seakan-akan berbesar hati karena rela menanggung sendiri segala konsekuensi.
Itu bukan berbesar hati, tapi gengsi. Malu, dan takut—ah, sama saja—terhadap risiko dicemooh dan dicap oleh orang lain. Seseorang pernah menggelapkan uang Gereja. Karena ketahuan, ia dikeluarkan dari kepengurusan. Lalu ia tak pernah kelihatan lagi di Gereja. Ia memilih untuk tidak mengakuinya, tidak minta tolong, dan tidak mau dibantu. Ia akan terus seperti itu, menjadi orang yang terluka, selama ia tidak pernah mau mengambil risiko-risiko supaya disembuhkan.
Semoga kita masih berani untuk minta disembuhkan, minta tolong kepada orang lain. Sebaliknya, semoga kita juga belajar untuk menjamah dan merawat luka orang lain juga. Gereja ini, komunitas kita ini, mestinya menjadi tempat untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka dan dibuang oleh masyarakatnya. Kalau bukan kita yang sakit, jangan pernah menunggu untuk menawarkan diri, "Aku mau. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Amin.
"Sembuh, karna Mau Disentuh"
Im 13:1-2.45-46; 1Kor 10:31-11:1; Mrk 1:40-45
Sebuah luka, pasti sakit sekali kalau kena meja. Biasanya, kalau anggota badan kita terluka, kita akan hati-hati saat berpapasan dengan orang lain, jangan sampai orang menyenggol luka kita. Kalau luka itu sampai tersenggol, apalagi terinjak, kita pasti langsung mengaduh-aduh, atau menahan rasa sakit sambil mengernyitkan wajah. Kadang-kadang kita sengaja menunjukkan ekspresi wajah yang kesakitan itu ke orang lain, supaya orang itu sadar bahwa ia sudah menyenggol luka kita. Dengan kata lain, kalau kita sedang terluka atau sakit, kita itu tidak boleh disentuh oleh siapapun. Kita lalu menjadi untouchable, "tak tersentuh". Kita seperti seseorang yang sakit parah namun mengusir dan mengancam semua perawat yang mencoba merawatnya.
Dari orang-orang yang terluka, baik jasmani maupun hatinya, kita bisa mengamati reaksi yang diperlihatkannya. Sekurang-kurangnya ada dua reaksi. Pertama, ia akan menjauh, mengambil jarak, atau tiba-tiba menghilang. Ia menjauh karena malu dan takut, merasa terkutuk, kotor, dan berdosa. Yang kedua, orang itu sengaja memutus hubungan, tapi lebih karena gengsi, kecewa, dan demi harga diri. Secara tidak sengaja ia akan melemparkan kesalahan pada orang lain, "Saya tidak akan minta tolong kamu lagi!" Kedua reaksi ini muncul dari hati yang terluka karena ditolak, dikritik, dan dikoreksi, maupun juga karena sebuah kesalahan yang sebenarnya tak ingin dilakukannya tapi toh telanjur terjadi.
Orang kusta yang datang kepada Yesus ini hebat sekali! Seandainya kita tahu seperti apa perlakuan masyarakat terhadap orang kusta pada waktu itu, kita pun akan kagum dan menghargai perjuangannya itu. Kitab Imamat (Bac.I) menunjukkan kesulitan dan kehinaan macam apa akan yang dialami kalau orang kena penyakit kusta: "mereka harus berpakaian cabik-cabik, rambutnya terurai, menutupi mukanya dan berseru-seru: Najis! Najis! Memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkampungannya!" Konon, mereka harus membunyikan lonceng kecil kalau mau lewat di sebuah jalan supaya orang-orang di situ bisa menyingkir dari mereka dan meludah dengan jijik. Menyedihkan dan mengharukan! Orang yang sudah menderita karena penyakitnya, masih harus dibuang seperti binatang dan mengutuki dirinya sendiri!
Kalau saja Markus menggambarkan lebih lengkap situasi waktu itu. Orang-orang yang berkerumun di sekitar Yesus pasti panik dan berteriak-teriak karena ada orang sakit kusta yang mendekati mereka. Mereka pasti sudah berusaha mengusir atau melempari batu orang itu supaya jangan mendekat. Terbayang bahwa orang itu tetap merangsek maju karena ia mau bertemu dengan Yesus. Ia mau sembuh! Ia pasti membiarkan batu-batu itu melayang ke muka dan badannya. Ia menahan diri dari hinaan dan ludahan orang-orang yang menghalangi jalannya.
Sekarang kita mengerti mengapa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia benar-benar terharu karena iman orang ini. Ia bahkan lebih lagi membuat takut banyak orang karena kemudian mengulurkan tangan-Nya, dan… menjamah orang itu! (Tidak ada orang yang berani menjamah penderita kusta pada waktu itu. Tindakan ini melanggar hukum!).
Di zaman kita ini, bukan beberapa, tapi hampir semua orang pernah terkena "kusta". Hampir semua orang pernah jatuh dalam kesalahan, pernah terlibat dalam sebuah skandal, pernah berdosa, pernah "habis" hidupnya karena dikucilkan, dijauhi, dan dihina oleh orang lain karena kesalahan yang dilakukan itu. Akan tetapi, berapa banyak yang berani mengambil risiko untuk disembuhkan? Berapa kali kita dengar kata-kata, "Kalau engkau mau, tolonglah aku…"? Berapa banyak yang mau mendekat dan membiarkan lukanya itu disentuh supaya sembuh? Kengerian akan risiko-risiko itu telah membuat kita selalu mundur teratur, memilih tenggelam dalam kesusahan kita, malah seakan-akan berbesar hati karena rela menanggung sendiri segala konsekuensi.
Itu bukan berbesar hati, tapi gengsi. Malu, dan takut—ah, sama saja—terhadap risiko dicemooh dan dicap oleh orang lain. Seseorang pernah menggelapkan uang Gereja. Karena ketahuan, ia dikeluarkan dari kepengurusan. Lalu ia tak pernah kelihatan lagi di Gereja. Ia memilih untuk tidak mengakuinya, tidak minta tolong, dan tidak mau dibantu. Ia akan terus seperti itu, menjadi orang yang terluka, selama ia tidak pernah mau mengambil risiko-risiko supaya disembuhkan.
Semoga kita masih berani untuk minta disembuhkan, minta tolong kepada orang lain. Sebaliknya, semoga kita juga belajar untuk menjamah dan merawat luka orang lain juga. Gereja ini, komunitas kita ini, mestinya menjadi tempat untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka dan dibuang oleh masyarakatnya. Kalau bukan kita yang sakit, jangan pernah menunggu untuk menawarkan diri, "Aku mau. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Amin.
Jan 20, 2009
Jan 17, 2009
Ketika ada......
Ketika ada banyak rumput yang tidak teratur tingginya, ada kesempatan untuk memotong dan meratakannya, namun juga ada kesempatan untuk melihat dulu, siapa tahu ada katak yang bersembunyi di balik semak-semak rumput yang rimbun itu.Ketika ada banyak buku bertumpuk dan berceceran di meja belajar, ada kesempatan untuk menata kembali di almari buku, namun juga ada kesempatan juga untuk membaca ulang judul-judul buku yang mengesan di benak kepalaku.Ketika ada banyak orang yang menjadi jaringan di facebook dan multiply, ada kesempatan untuk menyapa mereka satu per satu, atau kesempatan untuk membiarkannya foto foto itu terpampang tanpa disapa lagi. Ketika ada banyak telpon dan sms yang datang silih berganti tanpa kuminta, adakah kesempatan untuk bertanya keadaanya, "Apakah kamu sehat?" atau kita lebih suka lalu menceritakan diri sendiri?Ketika ada banyak siaran televisi yang menarik, adakah kesempatanku untuk berpikir sebentar, apakah tayangan televisi itu memberikan pencerahan baru untuk perkembangan hidupku?Ketika badan sakit dan rasanya tulang-tulang itu linu rasanya, adakah aku sempat bermimpi menjadi orang yang sehat, dan akhirnya pun aku bersyukur, betapa berarti kesehatan itu bagi hidupku bersama orang lain.Ketika aku tersinggung dan marah karena dikritik temanku, adakah kesempatan untuk berpikir positif, dalam diri temanku ini Tuhan mau berbicara padaku, meski dengan kata-kata yang pedas sekalipun, Tuhan bisa mengubah kata yang pedas itu menjadi kata yang lembut..di saat aku berterima kasih pada temanku, "Teman, terima kasih kritikanmu!"Ketika aku merasa diriku dibutuhkan oleh banyak orang, adakah kesempatan bagiku untuk berpikir, akankah aku juga bahagia, bila aku tidak lagi dibutuhkan karena usiaku yang mulai bertambah, dan tenagaku yang berkurang?Ketika banyak orang simpatik denganku, adakah saat saat yang penting bagiku untuk bertanya -tanya pada diriku, andaikata aku tidak seperti sekarang ini, masihkah aku juga bisa hidup penuh kehangatan, walau sapaan orang lain semakin menipis, apalagi kalau cara pemikiranku, sikapku dan perbuatanku sudah tidak lagi sesuai dengan keinginan dunia...apakah juga aku rela ditinggalkan sebagai orang yang dinilai "out of date"?Ketika ada banyak orang berputus asa karena tidak ada lagi alasan untuk berharap, adakah inisiatifku untuk menjadi temannya, "Kawan, bolehkah aku duduk di sampingmu, menemanimu?" Ataukah yang ada, "Sia-sia belaka menjadi teman, tanpa manfaat! Apalagi jadi teman orang frustrasi...? Emang enak, menyenangkan...tidak lah yaauuuuw?"Ketika ada orang miskin yang berteriak dalam tangisannya...karena tidak lagi mampu berbicara untuk minta makan, "masihkah ada inisiatifku untuk memberi dia makan?"Semoga panggilan Tuhan yang selalu bermunculan di tengah segala macam ketidakturan, menggerakkan dan menantang hati kita untuk terlibat dan berpartisipasi membuat sebuah perubahan. Have a nice and blessed weekend!
Subscribe to:
Posts (Atom)
